Somewhere You Belong (Part II)

Posted in Opinion with tags , , on January 24, 2010 by lakso

Ohaiyo gozaimasu minna-san… Seperti yang sudah saya tuliskan di akhir tulisan saya sebelumnya, sekarang saya akan melanjutkan kisah Pak Jojima.

Jojima Masayuki

Continue reading

Advertisements

Somewhere You Belong (Part I)

Posted in Opinion with tags , on January 23, 2010 by lakso

Hari Minggu sore ini saya mendapat seorang teman Jepang baru, seorang kakek yang berusia 85 tahun. Seperti kondisi orang-orang tua di Jepang lazimnya, teman baru saya ini masih terlihat sangat sehat dan bugar, seakan-akan 15 tahun lebih mudah dari usia sebenarnya. Penampilannya sederhana dan bersahaja, dan dari gurat wajahnya tampak bahwa ia tenang menghabiskan hari-hari tuanya di rumahnya yang terletak  di salah satu kompleks perumahan kota Fukuoka. Jojima Masayuki, itulah nama teman baru saya ini.

Awal pertemuan saya dengan Pak Jojima ini berawal dari cerita teman Jepang saya yang lain, Mika (lain kali saya juga akan bercerita tentang teman saya ini, a lot of things about her to be told). Mika menyampaikan kepada saya, bahwa ada seorang kakek kenalannya yang ingin bertemu dengan saya karena dia dulu pernah beberapa tahun tinggal di Indonesia. Dan akhirnya Minggu sore ini, saya, Mika, dan Ryuushi (suami Mika), pergi berkunjung ke rumah Pak Jojima.

Well, kembali ke cerita tentang Pak Jojima. Sebenarnya apa yang menarik tentang Pak Mojima, hingga saya sangat ingin bercerita tentangnya di blog ini? Continue reading

Dia Yang Dirindu

Posted in Opinion with tags , , , on January 10, 2010 by lakso

Senyumnya masih sama ketika menyambutku, tulus dan hangat seperti biasanya. Meski guratan usia di wajahnya dan uban di rambutnya membuatnya tampak lebih tua daripada saat terakhir kali aku bertemu dengannya, wajahnya masih teduh. Inilah yang membuat kerinduan untuk pulang terus membuncah.

Dalam kepulangan kali ini, ada hal yang membuatku bahagia. Kini ibuku sudah mulai lancar mengaji meski dengan ilmu tajwid yang masih belum sempurna. Setiap hari seusai sholat maghrib hingga waktu sholat isya tiba, ibuku selalu mengaji dan aku berkesempatan untuk mendampinginya, mengoreksi bacaannya. “Sebenarnya setelah khatam Al-Quran pada waktu Ramadhan kemarin, Pak Sukri akan mengajari Ibu ilmu tajwid kemudian juga tafsir Al-Qur’an-nya, tapi Pak Sukri sekarang sibuk setelah menjadi relawan bencana alam dan pindah ke LSM lainnya, pelajaran ngajinya jadi mandeg*”. Begitu keluh ibuku tentang pelajaran mengaji rutinnya yang terhenti karena Pak Sukri, nama guru mengajinya, sibuk dengan berbagai aktivitas. Subhanallah..senang sekali melihat semangat ibuku untuk belajar Al-Qur’an dan hal ini juga melecut diriku untuk berusaha lebih rajin dan istiqomah mempelajari kalam-Nya.

Beliau sempat terisak untuk beberapa saat lamanya ketika aku pertama kali menyimak bacaan mengajinya seusai sholat shubuh ketika aku baru tiba di rumah. Aku tidak tahu pasti mengapa ia menangis, mungkin karena terharu bertemu aku yang sudah lebih dari 1,5 tahun lamanya tidak pulang, atau terharu karena sudah mulai bisa mengaji dengan lancar. Di sela isak tangisnya, aku mendengar kalimat lirih dari bibirnya, “kasihan bapak..”. Aku teringat almarhum bapakku, beliau memang belum sempat untuk belajar mengaji lagi sebelum ajalnya tiba. Inilah hal yang selalu membuat aku sedih jika teringat almarhum bapakku. Sedih pada diri sendiri karena sebagai seorang anak, aku belum merasa berbuat banyak, setidaknya untuk lebih sering mengingatkan dan mengajak belajar bapakku (semoga Allah menerima segala amal ibadahnya dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya). Aku paham hidayah memang menjadi hak prerogatif Allah, tapi diriku selalu merasa bersalah dan menyesal jika mengingat hal ini. Perasaan ini juga yang menjadi motivasi untuk terus belajar, terus membina silaturahim dengan ibu dan kakak-kakakku, untuk perlahan-lahan mengajak mereka untuk bersama-sama mempelajari dan mengamalkan Islam sebaik-baiknya.

Selain rutinitas baru seusai sholat maghrib, aku juga sempat berbincang-bincang dengan ibuku. Berbincang-bincang tentang banyak hal, tentang hidup. Dan dalam perbincangan dengan beliau kali ini, beliau kembali mengingatkanku tentang pentingnya totalitas, komitmen, konsistensi, dan pantang menyerah dalam hidup. Dari perbincangan ini juga, aku juga menjadi sadar bahwa beberapa sifat dan karakter dalam diriku turunan dari ibu dan almarhum bapakku. Memang sudah sejak lama dan sering kudengar peribahasa “air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga”, tapi baru kali ini aku menyadari betapa kuatnya nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya, meskipun mungkin itu hanya terjadi saat masa kecil si anak dan anak tersebut kemudian pergi merantau sekian lama.

Untuk kalian yang masih memiliki orang tua, ingat-ingatlah perkataan Rasulullah SAW ini :

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata : Aku bertanya, “Ya Nabiyullah, amal apakah yang paling dekat kepada surga?” Beliau SAW bersabda, “Shalat pada waktunya”. Aku bertanya lagi “Apa lagi ya Nabiyullah?” Beliau SAW bersabda berbakti kepada kedua orang tua”. Aku bertanya lagi “Apa lagi ya Nabiyullah?” Beliau SAW bersabda, “Berjihad di jalan Allah”. (H.R.Muslim juz 1, hal.89)
Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Seorang anak tidak bisa membalas (kebaikan) orang tuanya, kecuali jika ia mendapatkan orang tuanya sebagai budak, lalu ia membelinya dan memerdekakannya” (H.R.Muslim juz 2, hal.1148)

Dan masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist yang membahas keutamaan berbakti kepada kedua orang tua. Jangan ditunda-tunda, lakukan sekarang juga.

Sembilan Nyawa

Posted in Opinion with tags , , on January 6, 2010 by lakso

Image was taken from http://livinginindonesia.info

Tinggal di Jepang selama hampir 2 tahun ternyata sedikit banyak mempengaruhi psikis saya dalam berlalulintas. Setelah mulai terbiasa dengan kondisi lalu lintas yang serba teratur, mulai dari pengaturan posisi dalam berkendara di jalanan, penerapan berbagai macam aturan lalu lintas serta penetapan sanksi bagi pelanggar aturan lalu lintas (karena saya sempat mengambil ujian SIM di Jepang, saya (terpaksa) untuk belajar seluk-beluk aturan lalu lintas di Jepang :D), pulang dan berkendara di jalanan Indonesia membuat saya merasa sedikit shock. Continue reading

Antara Ironi dan Relativitas

Posted in Opinion with tags , , , on December 19, 2009 by lakso

Tahukah kalian apa itu ‘ironi‘?

Ironi menurut definisi saya adalah :

Ketika musim dingin dalam kondisi kelaparan dan menggigil kedinginan, karena berada dalam ruangan tanpa penghangat, kita (terpaksa atau dipaksa oleh perut yang sudah menuntut haknya untuk diisi) memasak lauk pauk dan berusaha membuatnya selezat mungkin (paling tidak menurut lidah kita sendiri :P).  Ternyata… seusai memasak lauk pauk dan ingin segera bersantap kita baru sadar ….  kita belum memasak nasi… !_ _

Definisi di atas tidak  berlaku bagi anda yang :

  1. Pada kondisi tersebut memiliki makanan pokok pengganti nasi (roti, sagu, atau makanan berkarbohidrat lainnya)
  2. Anda tidak berprinsip ‘menganggap diri anda belum makan sebelum anda makan nasi’

Tahukah kalian apa itu ‘relativitas‘?

Relativitas menurut definisi saya adalah :

Ketika kita sudah membuat masakan dalam porsi besar dan berharap masakan tersebut bisa cukup untuk 3-5 kali porsi makan sehingga kita tidak perlu repot-repot memasak lagi. Ternyata … masakan yang baru kita buat habis dalam 2 kali porsi makan. Di sini ada 2 buah relativitas. Pertama, relativitas kuantitas masakan yang kita buat atau dengan kata lain kita belum cukup banyak membuat masakan. Yang kedua adalah relativitas rasa dari masakan yang kita buat..ternyata masakan kita enak sekali, hingga kita tidak sadar mengambil porsi makan yang lebih banyak daripada biasanya  😛 (untuk kasus relativitas yang kedua ini, penilaian rasa masakan bisa sangat subjektif..)

Peringatan :
Jika anda tiba di halaman blog ini karena anda ingin mencari arti kata dari ‘ironi’ dan ‘relativitas’, sebaiknya anda meneruskan pencarian di website yg lain. Penulis tidak bertanggung jawab atas pemahaman kata ‘ironi’ dan ‘relativitas’ yang absurd.
Hoho..I missed my blog. Well, have a nice blogging! ^^ (ditulis di sela-sela bertumpuknya laporan kuliah)

Kembali

Posted in Opinion on October 31, 2009 by lakso

Blog ini tampak kusam. Sudah sekian lama saya belum menulis lagi, tepatnya sudah 2 bulan 16 hari saya absen menulis. Apakah saya sudah bosan menulis? Tidak, saya masih suka menulis dan ingin terus menulis. Lalu kenapa tidak membuat tulisan baru? Apakah karena sibuk? Bisa saja saya menggunakan alibi ini, tapi saya rasa bukan kesibukan saya yang menjadi penyebabnya. Tapi lebih dikarenakan mood menulis saya yang fluktuatif. Hingga saat ini sebenarnya ada 10 draft yang tersimpan di blog saya belum sempat untuk diselesaikan. Dan ketika saya menunda untuk menyelesaikan sebuah tulisan, maka susah untuk mendapatkan feel yang sama ketika pertama kali saya memutuskan untuk membuat tulisan itu.

Saya benar-benar kangen menulis di blog ini. Saya ingin segera menuangkan ide-ide, cerita, dan rasa saya dalam tulisan. Saya akan segera kembali, tunggu saja …

Tanpa Judul (1)

Posted in Uncategorized on August 14, 2009 by lakso

Pagi ini salah seorang teman saya minta tolong kepada saya untuk mencarikan informasi tentang beasiswa program master teknik elektro di ITB  bagi mahasiswa asing, karena salah satu teman asingnya yang berasal dari Brazil tertarik untuk melanjutkan sekolah S2 di ITB. Hmm..awalnya saya sempat heran, mengapa seorang dari Brazil tertarik untuk jauh-jauh melanjutkan studinya di Indonesia. Bukan bermaksud untuk merendahkan kualitas ITB, tapi menurut saya orang Brazil ini tentunya akan lebih mudah menemukan perguruan tinggi dengan kualitas yang sama atau bahkan lebih baik di Amerika Serikat yang lokasinya lebih dekat dari Brazil. Tapi ternyata alasannya tidak sesederhana yang saya bayangkan sebelumnya.

Teman saya menjelaskan bahwa ternyata teman Brazilnya ini sangat menyukai orang-orang Indonesia. Tidak hanya tertarik untuk melanjutkan studi di Indonesia, teman Brazilnya ini juga berniat untuk pindah kewarganegaraan. Wow..! Keterkejutan saya tidak berhenti di sini, teman saya bercerita lebih jauh lagi kalau teman Brazilnya ini juga sangat tertarik dengan Islam dan berniat untuk berpindah agama, sebagai bentuk keseriusannya mulai bulan Ramadhan ini teman Brazilnya akan berlatih menjalankan ibadah puasa. … subhanallah…

Cerita lainnya datang dari salah seorang kenalan saya di Jepang. Namanya Shibata Kazuki, seorang pria tua berusia lebih dari 60 tahun, pemilik sebuah perusahaan konstruksi di Iizuka, kota tempat saya tinggal. Saya bertemu dengan Pak Shibata pertama kali di sebuah festival di Iizuka. Saat itu saya sedang membantu berjualan molen di stand Indonesia dan Pak Shibata adalah salah satu pembelinya. Seusai membeli pisang molen saya sempat mengobrol dengan Pak Shibata. Dari hasil obrolan ini saya tahu bahwa sekitar 30 tahun lalu Pak Shibata mempunya seorang sahabat karib asal Indonesia yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri. Namun sayangnya sejak kematian sahabatnya itu, ia kehilangan kontak dengan keluarga sahabatnya. Singkat cerita, sejak pertemuan itu saya menjadi berteman dengan Pak Shibata dan beberapa kali berkunjung ke rumahnya atau pergi keluar bersama-sama.

Suatu kali, dalam perjalanan pulang dari kegiatan menjadi relawan di sebuah sekolah dasar di Iizuka, Pak Shibata bercerita kepada saya tentang kenangannya saat menginap di rumah sahabatnya di Padang, Sumatera Barat. Salah satu yang ia ingat adalah tentang adzan. Ia suka mendengarkan suara adzan dan merasa tenang tiap kali mendengarnya, meski belum mengerti artinya. Saya tertegun dan dalam hati hanya bisa berdoa semoga Pak Shibata mendapatkan hidayah di usianya yang telah senja. Ke depannya saya jadi bertekad untuk lebih mengenalkan Islam kepada Pak Shibata.

Pak Shibata ketika mengenakan baju batik hadiah dari saya. Beliau senang sekali mendapat hadiah baju batik

Pak Shibata ketika mengenakan baju batik. Beliau senang sekali mendapat hadiah baju batik

Masih banyak cerita-cerita dan momen-momen khusus tentang teman-teman Jepang saya yang bertopik Indonesia dan Islam. Senang dan terharu rasanya setiap kali saya bertemu dengan orang asing yang suka dengan Indonesia, atau bahkan tertarik dengan Islam. Semakin bersyukur karena diri ini mendapat nikmat iman dan Islam. Terima kasih Ya Allah ..

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S. Al-Hujuraat : 13).