Archive for the Opinion Category

Catatan Idul Fitri 1431H

Posted in Opinion, Share it with tags , , , , , , on September 9, 2010 by lakso

Satu-satunya momen dengan mobilisasi massa terbesar di Indonesia sudah berlangsung sejak kurang lebih tujuh hari yang lalu dan akan berakhir tujuh hari kemudian. Momen tahunan yang mengalahkan panasnya intrik Pemilu lima tahunan atau euforia empat tahunan Piala Dunia, yap momen itu bernama ‘mudik’. Ribuan orang dari berbagai daerah rela merogoh koceknya dalam-dalam dan bahkan banyak juga yang harus rela berpanas-panas serta menghirup karbon monoksida selama berjam-jam di atas jalanan, atau berdesak-desakan di dalam alat transportasi publik. Mereka semua punya satu tujuan : kembali ke kampung halamannya masing-masing untuk bersilaturahim dengan sanak saudaranya.

Saya pun sempat menjadi bagian dari momen tahunan ini, tepatnya empat tahun yang lalu selama empat tahun. Continue reading

Advertisements

Today is Yours

Posted in Opinion with tags , , , on February 23, 2010 by lakso

Today is yours‘ salah satu kalimat pendek yang saya suka. Kata-kata ini biasanya selalu terpampang di baliho milik LFM (Liga Film Mahasiswa) ITB saat waktu wisuda. Kalimat yang mengiringi ratusan, mungkin kini sudah ribuan untuk setiap waktu wisudanya, para wisudawan dan wisudawati ITB. Euforia dan letupan-letupan perasaan puas, senang, sedih, haru seusai menuntut ilmu di kampus cap gajah ini seolah berusaha direfleksikan lewat kalimat ini. Continue reading

Somewhere You Belong (Part II)

Posted in Opinion with tags , , on January 24, 2010 by lakso

Ohaiyo gozaimasu minna-san… Seperti yang sudah saya tuliskan di akhir tulisan saya sebelumnya, sekarang saya akan melanjutkan kisah Pak Jojima.

Jojima Masayuki

Continue reading

Somewhere You Belong (Part I)

Posted in Opinion with tags , on January 23, 2010 by lakso

Hari Minggu sore ini saya mendapat seorang teman Jepang baru, seorang kakek yang berusia 85 tahun. Seperti kondisi orang-orang tua di Jepang lazimnya, teman baru saya ini masih terlihat sangat sehat dan bugar, seakan-akan 15 tahun lebih mudah dari usia sebenarnya. Penampilannya sederhana dan bersahaja, dan dari gurat wajahnya tampak bahwa ia tenang menghabiskan hari-hari tuanya di rumahnya yang terletak  di salah satu kompleks perumahan kota Fukuoka. Jojima Masayuki, itulah nama teman baru saya ini.

Awal pertemuan saya dengan Pak Jojima ini berawal dari cerita teman Jepang saya yang lain, Mika (lain kali saya juga akan bercerita tentang teman saya ini, a lot of things about her to be told). Mika menyampaikan kepada saya, bahwa ada seorang kakek kenalannya yang ingin bertemu dengan saya karena dia dulu pernah beberapa tahun tinggal di Indonesia. Dan akhirnya Minggu sore ini, saya, Mika, dan Ryuushi (suami Mika), pergi berkunjung ke rumah Pak Jojima.

Well, kembali ke cerita tentang Pak Jojima. Sebenarnya apa yang menarik tentang Pak Mojima, hingga saya sangat ingin bercerita tentangnya di blog ini? Continue reading

Dia Yang Dirindu

Posted in Opinion with tags , , , on January 10, 2010 by lakso

Senyumnya masih sama ketika menyambutku, tulus dan hangat seperti biasanya. Meski guratan usia di wajahnya dan uban di rambutnya membuatnya tampak lebih tua daripada saat terakhir kali aku bertemu dengannya, wajahnya masih teduh. Inilah yang membuat kerinduan untuk pulang terus membuncah.

Dalam kepulangan kali ini, ada hal yang membuatku bahagia. Kini ibuku sudah mulai lancar mengaji meski dengan ilmu tajwid yang masih belum sempurna. Setiap hari seusai sholat maghrib hingga waktu sholat isya tiba, ibuku selalu mengaji dan aku berkesempatan untuk mendampinginya, mengoreksi bacaannya. “Sebenarnya setelah khatam Al-Quran pada waktu Ramadhan kemarin, Pak Sukri akan mengajari Ibu ilmu tajwid kemudian juga tafsir Al-Qur’an-nya, tapi Pak Sukri sekarang sibuk setelah menjadi relawan bencana alam dan pindah ke LSM lainnya, pelajaran ngajinya jadi mandeg*”. Begitu keluh ibuku tentang pelajaran mengaji rutinnya yang terhenti karena Pak Sukri, nama guru mengajinya, sibuk dengan berbagai aktivitas. Subhanallah..senang sekali melihat semangat ibuku untuk belajar Al-Qur’an dan hal ini juga melecut diriku untuk berusaha lebih rajin dan istiqomah mempelajari kalam-Nya.

Beliau sempat terisak untuk beberapa saat lamanya ketika aku pertama kali menyimak bacaan mengajinya seusai sholat shubuh ketika aku baru tiba di rumah. Aku tidak tahu pasti mengapa ia menangis, mungkin karena terharu bertemu aku yang sudah lebih dari 1,5 tahun lamanya tidak pulang, atau terharu karena sudah mulai bisa mengaji dengan lancar. Di sela isak tangisnya, aku mendengar kalimat lirih dari bibirnya, “kasihan bapak..”. Aku teringat almarhum bapakku, beliau memang belum sempat untuk belajar mengaji lagi sebelum ajalnya tiba. Inilah hal yang selalu membuat aku sedih jika teringat almarhum bapakku. Sedih pada diri sendiri karena sebagai seorang anak, aku belum merasa berbuat banyak, setidaknya untuk lebih sering mengingatkan dan mengajak belajar bapakku (semoga Allah menerima segala amal ibadahnya dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya). Aku paham hidayah memang menjadi hak prerogatif Allah, tapi diriku selalu merasa bersalah dan menyesal jika mengingat hal ini. Perasaan ini juga yang menjadi motivasi untuk terus belajar, terus membina silaturahim dengan ibu dan kakak-kakakku, untuk perlahan-lahan mengajak mereka untuk bersama-sama mempelajari dan mengamalkan Islam sebaik-baiknya.

Selain rutinitas baru seusai sholat maghrib, aku juga sempat berbincang-bincang dengan ibuku. Berbincang-bincang tentang banyak hal, tentang hidup. Dan dalam perbincangan dengan beliau kali ini, beliau kembali mengingatkanku tentang pentingnya totalitas, komitmen, konsistensi, dan pantang menyerah dalam hidup. Dari perbincangan ini juga, aku juga menjadi sadar bahwa beberapa sifat dan karakter dalam diriku turunan dari ibu dan almarhum bapakku. Memang sudah sejak lama dan sering kudengar peribahasa “air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga”, tapi baru kali ini aku menyadari betapa kuatnya nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya, meskipun mungkin itu hanya terjadi saat masa kecil si anak dan anak tersebut kemudian pergi merantau sekian lama.

Untuk kalian yang masih memiliki orang tua, ingat-ingatlah perkataan Rasulullah SAW ini :

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata : Aku bertanya, “Ya Nabiyullah, amal apakah yang paling dekat kepada surga?” Beliau SAW bersabda, “Shalat pada waktunya”. Aku bertanya lagi “Apa lagi ya Nabiyullah?” Beliau SAW bersabda berbakti kepada kedua orang tua”. Aku bertanya lagi “Apa lagi ya Nabiyullah?” Beliau SAW bersabda, “Berjihad di jalan Allah”. (H.R.Muslim juz 1, hal.89)
Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Seorang anak tidak bisa membalas (kebaikan) orang tuanya, kecuali jika ia mendapatkan orang tuanya sebagai budak, lalu ia membelinya dan memerdekakannya” (H.R.Muslim juz 2, hal.1148)

Dan masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist yang membahas keutamaan berbakti kepada kedua orang tua. Jangan ditunda-tunda, lakukan sekarang juga.

Sembilan Nyawa

Posted in Opinion with tags , , on January 6, 2010 by lakso

Image was taken from http://livinginindonesia.info

Tinggal di Jepang selama hampir 2 tahun ternyata sedikit banyak mempengaruhi psikis saya dalam berlalulintas. Setelah mulai terbiasa dengan kondisi lalu lintas yang serba teratur, mulai dari pengaturan posisi dalam berkendara di jalanan, penerapan berbagai macam aturan lalu lintas serta penetapan sanksi bagi pelanggar aturan lalu lintas (karena saya sempat mengambil ujian SIM di Jepang, saya (terpaksa) untuk belajar seluk-beluk aturan lalu lintas di Jepang :D), pulang dan berkendara di jalanan Indonesia membuat saya merasa sedikit shock. Continue reading

Antara Ironi dan Relativitas

Posted in Opinion with tags , , , on December 19, 2009 by lakso

Tahukah kalian apa itu ‘ironi‘?

Ironi menurut definisi saya adalah :

Ketika musim dingin dalam kondisi kelaparan dan menggigil kedinginan, karena berada dalam ruangan tanpa penghangat, kita (terpaksa atau dipaksa oleh perut yang sudah menuntut haknya untuk diisi) memasak lauk pauk dan berusaha membuatnya selezat mungkin (paling tidak menurut lidah kita sendiri :P).  Ternyata… seusai memasak lauk pauk dan ingin segera bersantap kita baru sadar ….  kita belum memasak nasi… !_ _

Definisi di atas tidak  berlaku bagi anda yang :

  1. Pada kondisi tersebut memiliki makanan pokok pengganti nasi (roti, sagu, atau makanan berkarbohidrat lainnya)
  2. Anda tidak berprinsip ‘menganggap diri anda belum makan sebelum anda makan nasi’

Tahukah kalian apa itu ‘relativitas‘?

Relativitas menurut definisi saya adalah :

Ketika kita sudah membuat masakan dalam porsi besar dan berharap masakan tersebut bisa cukup untuk 3-5 kali porsi makan sehingga kita tidak perlu repot-repot memasak lagi. Ternyata … masakan yang baru kita buat habis dalam 2 kali porsi makan. Di sini ada 2 buah relativitas. Pertama, relativitas kuantitas masakan yang kita buat atau dengan kata lain kita belum cukup banyak membuat masakan. Yang kedua adalah relativitas rasa dari masakan yang kita buat..ternyata masakan kita enak sekali, hingga kita tidak sadar mengambil porsi makan yang lebih banyak daripada biasanya  😛 (untuk kasus relativitas yang kedua ini, penilaian rasa masakan bisa sangat subjektif..)

Peringatan :
Jika anda tiba di halaman blog ini karena anda ingin mencari arti kata dari ‘ironi’ dan ‘relativitas’, sebaiknya anda meneruskan pencarian di website yg lain. Penulis tidak bertanggung jawab atas pemahaman kata ‘ironi’ dan ‘relativitas’ yang absurd.
Hoho..I missed my blog. Well, have a nice blogging! ^^ (ditulis di sela-sela bertumpuknya laporan kuliah)