Catatan Idul Fitri 1431H

Satu-satunya momen dengan mobilisasi massa terbesar di Indonesia sudah berlangsung sejak kurang lebih tujuh hari yang lalu dan akan berakhir tujuh hari kemudian. Momen tahunan yang mengalahkan panasnya intrik Pemilu lima tahunan atau euforia empat tahunan Piala Dunia, yap momen itu bernama ‘mudik’. Ribuan orang dari berbagai daerah rela merogoh koceknya dalam-dalam dan bahkan banyak juga yang harus rela berpanas-panas serta menghirup karbon monoksida selama berjam-jam di atas jalanan, atau berdesak-desakan di dalam alat transportasi publik. Mereka semua punya satu tujuan : kembali ke kampung halamannya masing-masing untuk bersilaturahim dengan sanak saudaranya.

Saya pun sempat menjadi bagian dari momen tahunan ini, tepatnya empat tahun yang lalu selama empat tahun. Dalam kurun waktu itu tiap tahunnya saya menjadi bagian dari gelombang ribuan manusia yang bermigrasi dari daerah sebelah barat Pulau Jawa ke daerah sebelah timur Pulau Jawa. Kalau mengenang masa-masa itu, saya masih ingat saat itu selalu ada euforia tersendiri menjalani kegiatan mudik tahunan karena perasaan gembira karena akan bertemu dengan orang tua, kakak, dan saudara-saudara lainnya yang sudah lama tidak bersua. Dan tentu saja, seperti yang saya singgung di awal, karena mudik adalah momen spesial tahunan, pengorbanannya pun juga lebih besar dibandingkan acara pulang kampung di luar waktu ini. Mulai dari harus mengantri untuk membeli tiket yang mendadak jadi lebih mahal dari sebelumnya dan tentu saja berdesak-desakan di dalam kereta. Meski demikian saya selalu menikmati masa-masa mudik itu, apalagi melewati masa-masa itu bersama teman-teman, ‘mangan ora mangan asal ngumpul’ meski melewati kesusahan asalkan bersama-sama akan menjadi momen yang menyenangkan. Ah.. saya jadi ingat, saya masih punya satu obsesi mudik yang belum terpenuhi dengan salah satu teman saya, yaitu untuk mencoba mudik dengan cara menumpang pesawat Hercules milik TNI yang terbang dari Bandung dan transit di Malang…hehehe.

Sejak tiga tahun yang lalu, saat saya memulai perantauan saya di Jepang, saya absen dari ritual mudik tahunan ini. Absen dari mudik yang saya maksud di sini bukan berarti saya tidak pernah lagi mengunjungi kota kelahiran saya, tapi waktunya saja yang berbeda. Saya hanya pulang saat liburan musim panas atau musim dingin saja. Jika tidak ada mudik di kala lebaran, lalu apa lagi yang berbeda dengan suasana lebaran selama di perantauan di Jepang? Well, berikut ini review singkat tentang masa-masa hari raya Idul Fitri dan Idul Adha  saya selama di Jepang :

  1. Idul Fitri tahun pertama
  2. Idul Fitri pertama saya di Jepang bertepatan dengan hari pertama masuk kuliah di kampus. Saya masih ingat, meski saat itu adalah hari pertama kuliah, saya belum memutuskan untuk mengambil kuliah. Hal ini karena profesor saya saat itu sedang berada di luar kota sedangkan untuk menentukan kuliah yang akan saya ambil, saya harus berdiskusi dan mendapatkan persetujuan dari beliau. Meski belum tahu harus mengambil kuliah, seusai sholat Ied saya langsung berlari-lari ke kampus untuk mengejar kuliah pagi yang kira-kira menarik untuk saya. Tentang sholat Ied-nya sendiri, saya masih dapat mengerjakan sholat Ied bersama di asrama kampus dan berkumpul sejenak menikmati hidangan khusus hari raya bersama-sama dengan saudara-saudara muslim di Iizuka. Kita juga mengundang teman-teman Jepang untuk menikmati hidangan hari raya. Tapi karena acaranya pagi hari, hanya sedikit teman-teman Jepang yang bisa hadir karena ada yang sibuk mulai bekerja atau ada juga yang masih terlelap.

  3. Idul Adha tahun pertama
  4. Idul Adha tahun pertama mirip dengan Idul Fitri tahun pertama. Seusai sholat Ied dilanjutkan dengan acara bersantap hidangan khusus hari raya. Yang sangat berbeda adalah tidak ada acara menyembelih hewan qurban, karena setahu saya untuk bisa menyembelih hewan ternak di Jepang butuh ijin khusus dari pemerintah. Jadi bagi yang ingin berqurban, tetap melakukannya di Indonesia.

  5. Idul Fitri tahun kedua
  6. Idul Fitri tahun kedua menurut saya adalah Idul Fitri yang paling istimewa. Ada 3 hal yang membuat Idul Fitri tahun kedua ini istimewa. Pertama karena bertepatan dengan hari libur di Jepang, sehingga bersama dengan saudara-saudara muslim lainnya kami dapat merayakan secara leluasa. Hal istimewa kedua adalah sholat Ied yang dilakukan di Masjid Fukuoka. Ya, sejak tahun lalu akhirnya Masjid Fukuoka dibuka. Untuk bisa mendirikan masjid di Jepang bukan perkara yang mudah, dibutuhkan proses perijinan yang berbelit dan biaya yang tidak sedikit untuk dapat membeli tanah dan mendirikan masjidnya. Untuk masjid Fukuoka, dibutuhkan waktu selama 11 tahun untuk mengurus perijinan dan mengumpulkan dananya. Proses pendirian bangunannya sendiri relatif singkat hanya memakan waktu sekitar 1,5 tahun.  Jadi bisa dibayangkan bagaimana antusiasnya komunitas muslim di Fukuoka, dan bahkan beberapa provinsi di sekitarnya, sangat menantikan saat itu. Hal ketiga adalah perayaan Idul Fitri di malam harinya yang bisa dihadiri oleh banyak teman-teman Jepang.

  7. Idul Adha tahun kedua
  8. Idul Adha tahun kedua sama dengan Idul Adha tahun pertama, sholat Ied kemudian disertai santap bersama. Bedanya, saat itu saya tidak bisa mengikuti sholat Ied karena saya harus pergi ke rumah sakit untuk mengobati cedera yang saya alami beberapa hari sebelumnya.

  9. Idul Fitri tahun ketiga
  10. Idul Fitri tahun ketiga mungkin akan menjadi Idul Fitri yang paling sepi. Sepi karena saya tidak lagi berada di Iizuka, tapi di Kitami. Di sini jumlah muslimnya lebih sedikit dan ditambah lagi saat ini adalah liburan musim panas, beberapa saudara muslim sedang pulang ke negaranya. Meski terasa sepi, menurut saya Idul Fitri ini tetap memiliki keistimewaan tersendiri. Selama Ramadhan tahun ini, di tengah kesibukan riset dan part-time job saya belajar banyak hal. Di tengah kesibukan yang lebih dibandingkan sebelumnya, saya justru merasa memiliki waktu lebih untuk bertafakur dibandingkan sebelumnya untuk mengevaluasi dan menghayati serta merencanakan hal-hal yang sudah saya alami dan yang akan saya alami di sisa usia hidup saya. Terima kasih ya Alloh.

Idul Fitri tentu bukan hanya perkara tentang mudik. Jangan sampai kita serta merta melupakan masa penempaan diri yang telah kita jalani selama 30 hari sebelumnya dengan euforia sesaat mudik lebaran. Sebagai penutup tulisan ini :

Selamat tinggal Ramadhan…, semoga kita senantiasa diberi keistiqomahan untuk menjaga kebiasaan baik yang sudah terbentuk selama ini dan membuat perubahan yang lebih baik serta masih diberi usia untuk bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya.. amin.

* Di nomor 1, 2, 3, dan 4, saya menyebut ‘hidangan khusus hari raya’ karena seolah-olah ibu-ibu berlomba-lomba untuk menyajikan masakan terbaiknya. Terima kasih ya ibu-ibu Iizuka ^^

* Untuk ibu, kakak dan saudara-saudara lainnya, maaf sekali lagi Lakso belum bisa berlebaran bersama di rumah.

* Untuk teman-teman KMJB, kangen nih sama acara mudik bareng + buka barengnya…

* Untuk teman-teman EL’03, hari Sabtu 11 September 2010 jam 17.00 WIB kita ketemuan di conference Skype yak!

3 Responses to “Catatan Idul Fitri 1431H”

  1. kangen juga nih, “mbathang” di trotoar depan rumah mu…😀

    Sepurane lair bathin yo Cak..

  2. Selamat idul fitri,laks. Minal aidzin wal faidzin.

    Kapan2 ceritanya dikasih foto donk,biar ak tau suasana lebaran dsana (request nich…..)

  3. i use this note for my simple thinks..but usefull

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: