Somewhere You Belong (Part II)

Ohaiyo gozaimasu minna-san… Seperti yang sudah saya tuliskan di akhir tulisan saya sebelumnya, sekarang saya akan melanjutkan kisah Pak Jojima.

Jojima Masayuki

Kalau misalkan kalian diminta menunjuk sebuah tempat yang kalian anggap sebagai rumah, entah itu dari sekian banyak kota atau desa yang pernah kalian kunjungi atau tinggali, tempat seperti apa yang akan kalian pilih? Tempat lahir kalian? Tempat dimana kalian paling lama menghabiskan masa hidup? Atau mungkin tempat yang meninggalkan kesan paling dalam bagi kalian? Rumah adalah tempat dimana kita bisa merasa nyaman, menjadi diri kita sendiri, tempat dimana kita diterima oleh orang-orang yang berada di situ, tempat yang setiap detiknya bisa memberikan kesan tersendiri bagi kita. Tidak peduli berapa lama atau dengan siapa  kita tinggal di tempat itu, jika tempat itu memenuhi definisi-definisi rumah sebelumnya, kita bisa menyebutnya sebagai rumah. Kurang lebih itulah definisi rumah yang bisa saya simpulkan dari obrolan sore itu dengan Pak Jojima.

Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, selama berada di Indonesia Pak Jojima bertugas merawat pesawat-pesawat Jepang. Sayangnya selama masa tugasnya itu, dia tidak terlalu banyak berinteraksi dengan orang-orang Indonesia karena tempat kerjanya yang di bawah pengawasan ketat militer Jepang. Hanya orang-orang yang berhubungan langsung dengan kegiatan teknis perawatan mesin-mesin pesawat yang diperbolehkan memasuki kawasan itu. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja teknis, beberapa orang Indonesia direkrut untuk dilatih dan diajari, baik itu tentang ke-engineering-an atau juga tentang bahasa Jepang supaya mereka dapat berkomunikasi dengan baik dengan teknisi-teknisi Jepang lainnya. Pak Jojima termasuk salah satu trainer dalam program ini. Tampaknya melalui program training inilah, akhirnya Pak Jojima mengenal ITB atau Bandung kougyou daigaku (mungkin jaman dulu nama ini disingkat ‘Bakodai’ hehe..).

Kembali ke pertanyaan-pertanyaan di akhir tulisan saya sebelumnya, dari bincang-bincang dengan Pak Jojima, menurut saya paling tidak ada 2 alasan mengapa Pak Mojima menganggap Bandung sebagai rumahnya. Alasan pertama Pak Mojima jatuh cinta dengan alam Bandung tempo dulu. Udara sejuknya, kebun teh yang membentang luas di Lembang, air panasnya, dan bangunan-bangunannya.

Alasan kedua adalah alasan yang paling kuat dan meninggalkan kesan begitu dalam bagi Pak Jojima, yaitu momen di Bandung adalah momen dimana dia pernah berhutang nyawa. Seusai kekalahan Jepang atas sekutu, tentara Jepang terpaksa angkat kaki dari negara-negara jajahannya. Dan saat itu pejuang-pejuang Indonesia semakin gencar berbalik menyerang tentara Jepang yang ada di Indonesia. Pak Jojima yang saat itu hanya sebagai seorang teknisi terjebak dalam kondisi ini. Hingga suatu saat Pak Jojima dan rekan-rekan teknisi lainnya hampir dieksekusi oleh pejuang-pejuang Indonesia.  Saat itulah beberapa orang penduduk Indonesia yang pernah dididik oleh Pak Jojima dalam program training yang lalu, datang menyelamatkan Pak Jojima. Mereka datang untuk memberikan penjelasan kepada para pejuang Indonesia bahwa Pak Jojima dan rekan-rekan teknisi lainnya adalah hanya teknisi bukan tentara. Akhirnya setelah berhasil meyakinkan para pejuang Indonesia, Pak Jojima dan rekan-rekan teknisi Jepang lainnya dilepaskan. Momen inilah yang membuat Pak Jojima dan teman-temannya sangat berterima kasih dan terkesan kepada penduduk Indonesia. Meskipun saat itu Pak Jojima dan teknisi lainnya datang bersama tentara Jepang  yang menjajah Indonesia, penduduk Indonesia masih mau menyelamatkan mereka. Sejak itu dia bertekad akan membalas budi baik orang Indonesia.

Pak Jojima tidak bercerita secara runut kejadian sesudahnya. Yang jelas, setelah masa tugas di Bandung usai, ia sempat bertugas di Jakarta dan Singapura dan kemudian kembali ke Jepang. Meski sudah kembali ke Jepang, momen penyelamatan oleh penduduk Indonesia masih membekas di benak Pak Jojima dan teman-temannya. Akhirnya ia dan teman-temannya membuat sebuah program pendidikan bagi penduduk Indonesia. Mereka mengundang beberapa orang Indonesia untuk mereka didik di Jepang dengan harapan orang-orang yang telah mereka didik ini dapat kembali ke Indonesia dan memperbaiki kesejahteraan hidupnya dengan menggunakan bekal ilmu yang telah diperoleh. Materi yang telah mereka ajarkan adalah bahasa Jepang dan ilmu-ilmu ke-engineering-an. Program ini sempat berjalan tapi tidak berlangsung lama. Sebenarnya Pak Jojima sangat berharap orang-orang Indonesia yang telah dididik ini, juga dapat mengembangkan industri di Indonesia namun sayang sesampainya di Indonesia mereka malah menjadi tourist guide. Akhirnya program ini terhenti, entah itu karena kesulitan dana, atau kesulitan menyeleksi orang-orang Indonesia yang akan dididik di Jepang, atau mungkin juga karena situasi ekonomi politik seusai perang dunia II yang masih labil.

Sekembalinya ke Jepang, atas ajakan dari temannya Pak Jojima meneruskan bekerja di perusahaan temannya ini. Kalau boleh memilih, sebenarnya Pak Jojima akan lebih memilih tinggal di Indonesia. Mungkin memang hidupnya selama di Jepang jauh lebih baik dan sejahtera, dibandingkan kalau ia memilih untuk tinggal di Indonesia, tapi hatinya sudah ada di Bandung. Ia mengatakan bahwa keputusan yang membuat dirinya hingga saat ini tinggal di Jepang bukanlah keputusan dirinya sendiri sepenuhnya. Mungkin masih banyak memori-memori tentang Bandung dan Indonesia yang membuatnya begitu ingin tinggal di Indonesia, yang belum sempat dia ceritakan. Tapi yang jelas, he really misses his old Bandung so much..

Btw, ada beberapa hal menarik lain dalam obrolan ini,antara lain :

  1. Awalnya Pak Jojima tidak percaya bahwa saya berasal dari Jawa. Alasannya yang ia tahu nama orang Jawa selalu diawali suku kata ‘su’ atau kalau ejaan lama ‘soe’, seperti Soekarno, dan Soeharto..hehe
    😀
    Tidak mau kalah dengan Pak Jojima, maka saya menjelaskan kepadanya tentang teori huruf vokal ‘o’ pada nama orang Jawa. Nama orang Jawa pada umumnya menggunakan banyak huruf ‘o’ atau diakhiri dengan huruf ‘o’. Akhirnya Pak Jojima menerima kenyataan bahwa saya adalah orang Jawa, meski hal itu bertentangan dengan teori suku kata ‘su’ miliknya
    😀
  2. Dari masalah suku kata ‘su’ ini, Pak Jojima berteori bahwa presiden Indonesia yang namanya tidak diawali dengan suku kata ‘su’ tidak akan memerintah dalam waktu yang lama. Teori absurd yang sampai saat ini masih terbukti kebenarannya.
    😀
  3. Pak Jojima pernah bertemu dengan Bung Karno, tapi sebelum Bung Karno menjadi presiden pertama Indonesia.
  4. Pak Jojima berteori bahwa seorang yang terlalu lama menjadi pemimpin, lambat laun akan menyimpang. Dua contoh yang ia temui pada pemerintahan Soekarno dan Soeharto. (Wow.. saya terkejut ternyata Pak Jojima tahu dengan baik sejarah Indonesia)

Me and Jojima-san

9 Responses to “Somewhere You Belong (Part II)”

  1. Jd penge Ke jepun.negeri sejuta kearifan

  2. TERIMAKASIH ATAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN/REFRENSI UNTUK REGENERASI. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

  3. wowww!! keren So.. T__T
    makasih sudah share this story..🙂
    like this.. hehehehe…

  4. Fandya Rachman Hakim Says:

    gak perlu ke jepang kalo mau belajar kearifan…di Indonesia juga bisa. Belajarnya ya dari contoh buruk yang banyak brtaburan di negeri ini….hehe,blajar buat tidak berbuat buruk.
    Loh,kok nglantur aku.haha

  5. Tinggi Jojima-san berapa ya? Konon orang Jepang tempo dulu pendek2, lebih pendek dari orang Indonesia. Betulkah itu?

  6. Bayu Sutawijaya Says:

    Sangat bagus sekali kisahnya. Sangat mengesankan.
    Minta ijin mengunduh foto tempo doeloe yg mr.Jojima masih muda.
    Buat saya pake utk cover buku ajar KARISMA mata pelajaran sejarah IPA. Semoga bisa sedikit membuat tenang hati Mr. Jojima.

  7. Mas Lakso saya tau tentang keberadaan bangunan yang ditanyakan pak Jojima di postingan anda part 1. Insya Allah nanti saya photo dan email ke anda atau bagaimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: