Somewhere You Belong (Part I)

Hari Minggu sore ini saya mendapat seorang teman Jepang baru, seorang kakek yang berusia 85 tahun. Seperti kondisi orang-orang tua di Jepang lazimnya, teman baru saya ini masih terlihat sangat sehat dan bugar, seakan-akan 15 tahun lebih mudah dari usia sebenarnya. Penampilannya sederhana dan bersahaja, dan dari gurat wajahnya tampak bahwa ia tenang menghabiskan hari-hari tuanya di rumahnya yang terletak  di salah satu kompleks perumahan kota Fukuoka. Jojima Masayuki, itulah nama teman baru saya ini.

Awal pertemuan saya dengan Pak Jojima ini berawal dari cerita teman Jepang saya yang lain, Mika (lain kali saya juga akan bercerita tentang teman saya ini, a lot of things about her to be told). Mika menyampaikan kepada saya, bahwa ada seorang kakek kenalannya yang ingin bertemu dengan saya karena dia dulu pernah beberapa tahun tinggal di Indonesia. Dan akhirnya Minggu sore ini, saya, Mika, dan Ryuushi (suami Mika), pergi berkunjung ke rumah Pak Jojima.

Well, kembali ke cerita tentang Pak Jojima. Sebenarnya apa yang menarik tentang Pak Mojima, hingga saya sangat ingin bercerita tentangnya di blog ini? Semasa mudanya Pak Jojima adalah seorang insinyur sistem kontrol pesawat terbang. Dia bersama sekitar 20 orang insinyur Jepang lainnya, dipilih untuk dikirim ke Indonesia untuk melakukan tugas maintenance pesawat-pesawat milik Jepang, yang saat itu memang sedang menduduki Indonesia. Pada masa tugasnya ini, Pak Jojima sempat tinggal di Indonesia selama 4 tahun, dengan perincian 2 tahun bertugas di Bandung dan 2 tahun berikutnya berkeliling ke beberapa bandara yang ada di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Pak Jojima tidak menyebutkan dengan detil tahun berapa dia mulai bertugas di Indonesia, tapi dari ceritanya saya bisa menyimpulkan ia tinggal di Indonesia sekitar tahun 1942-1946.

Di meja ruang tamunya dia sudah menyiapkan sebuah buku tua, yang memiliki sebuah peta Indonesia dan pulau Jawa tempo dulu (di akhir percakapan dengannya, saya baru tahu kalau buku itu adalah buku catatan sejarah rencana Jepang pada saat itu). Meski usianya sudah 85 tahun, ingatan Pak Jojima masih bagus. Beliau dapat menceritakan kembali peristiwa-peristawa atau tempat-tempat yang pernah ia kunjungi selama masa tugasnya di Indonesia. Sewaktu saya memperkenalkan diri saya secara singkat dan mengatakan bahwa saya sempat menuntut ilmu di ITB, matanya berbinar. “Bandung kougyou daigaku?! Ii desu ne..” Pujian yang dia lontarkan ini dilanjutkan dengan ceritanya yang memiliki seorang kenalan dosen teknik geologi ITB pada masa itu, Pak Durban (saya tidak tahu apakah ejaan nama  teman dosennya ini benar atau tidak). Sayang saat ini Pak Jojima tidak berhubungan lagi dengan Pak Durban, kabar terakhir yang ia terima tentang koleganya ini adalah sekitar 12 tahun yang lalu. Wajah Pak Mojima semakin berseri ketika dia bercerita tentang memoarnya di kota Bandung, mulai dari kebun teh di Lembang, taman bunganya hingga pemandian air panas Ciater. Dia juga bersemangat menanyakan bagaimana kondisi saat ini beberapa tempat di Bandung yang ia tahu di masa lalu, salah satunya adalah sebuah bangunan tempat ia bekerja merawat pesawat (dugaan saya bangunan ini terletak di kompleks bandara Husein Sastranegara). Tampak jelas sekali Pak Jojima sangat merindukan Bandung tempo dulu yang pernah ia temui.

Foto Pak Jojima (barisan tengah, kedua dari kanan) bersama kelompok insinyur dan tentara Jepang yang bertugas di Bandung. Bangunan di belakangnya adalah bangunan tempat kerja yang ditanyakan beliau. Apakah ada yang tahu bangunan ini masih ada atau tidak?

Kejutan muncul ketika saya bertanya, apakah saat ini Pak Jojima ingin mengunjungi Bandung. Jawabnya singkat, “watashi wa Bandung de shinitai desu..” atau yang artinya “saya ingin meninggal di Bandung..”.  Jawaban yang membuat saya terdiam, penasaran, dan bingung. Bagaimana bisa masa 2 tahun di Bandung membuat Pak Jojima sampai berkeinginan menghabiskan akhir hayatnya di Bandung? Karena faktor usia dan kesehatan yang tidak memungkinkan baginya untuk bepergian jauh, jawaban singkatnya tadi ia teruskan lagi. Kurang lebih ia berkata bahwa, kalaupun ia pada akhirnya meninggal di Jepang, ia berpesan kepada istrinya supaya menaburkan abu jasadnya di Indonesia. Jawaban yang semakin membuat saya penasaran, dan juga membuat percakapan sekitar selama 1 jam berikutnya menjadi semakin menarik bagi saya.

Apakah faktor sebenarnya yang membuat Pak Jojima berikrar untuk ingin menutup usianya di bumi priangan? Kejadian apa saja yang terjadi selama 2 tahun masa tugasnya di Bandung? Well, saya tidak bermaksud untuk membuat akhir tulisan ini mengambang, tapi apa daya kantuk saya sudah tidak tertahankan (jam di pojok kanan toolbar Windows saya sudah menunjukkan 1:41 AM). Ijinkan saya untuk beristirahat sejenak dan saya akan berjanji secepatnya menceritakan kelanjutan kisah Pak Jojima di tulisan saya selanjutnya. Minna o yasumi nasai …

……………………….
Another winter day has come and gone away
In even Paris and Rome
And I wanna go home
Let me go home
And I’m surrounded by a million people
I still feel alone
Oh, let me go home
……………………….
(Home – Michael Buble)

4 Responses to “Somewhere You Belong (Part I)”

  1. machmoedsantoso Says:

    wah..wah keren ceritanya..
    ditunggu kelanjutannya😀

  2. Nice postin gan.mungkin kalo pak Durban tau dia ingin ketemu sobatnya ini.kakek durban sampai sekarang mash berjiwa muda.dia mash menjadi Ced d usianya yg sepuh,bahkan dia ingin memimpin terus perusahanya sampai meninggal.ditunggu lanjutanya

  3. Pak Durban sekarang tinggal di kawasan Ciumbeluit, kebetulan saya sempat kenal beliau meskipun tidak terlalu akrab, mungkin lebih akrab sama istri beliau, Ibu Irawati Durban Ardjo…salah satu maestro tari sunda..
    Kalo denger nama Lakso kayaknya dari Jember ya? nebak.. tapi yakin..

  4. Hallo saya Arie PD kebetulan saya dinas di Lanud Husein Sastranegara Bandung. Saya tau bangunan itu dan masih berdiri kokoh di komplek kantor Lanud Husein S. Sekarang bangunan itu dipakai sebagai Kantor dan Toko Koperasi Lanud Husein S. yang Interior dari bangunan itu ada relief pesawat pesawat kuno. Insya Allah nanti saya photo bangunan itu untuk pak Jojima.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: