The beginning

Tulisan kali ini sebenarnya sudah ingin saya buat sejak pertama kali membuat blog. Namun karena saat itu saya masih belum merasa pas dengan tulisan saya, saya tidak meneruskannya. Kini saya memutuskan untuk meneruskan lagi tulisan saya yang sempat mengendap di dalam pikiran saya waktu itu. Tulisan ini tentang awal mula saya melanjutkan pendidikan di Jepang. Tulisan ini akan menjadi latar belakang tulisan saya selanjutnya (judulnya déjà vu).

Pada bulan Desember tahun lalu, saya dan beberapa teman saya mengikuti kuliah umum seorang profesor dari Jepang. Beliau tidak lain adalah Ochi-sensei yang saat ini menjadi sensei saya. Dalam kesempatan itu, beliau menawarkan kepada peserta kuliah umum untuk bergabung dengan proyek riset laboratoriumnya (proyek risetnya adalah desain chip untuk Digital Cinema over Wireless Network) serta bergabung dalam program S2 dan S3 di KIT. Saya, yang saat itu sedang berikhtiar untuk mencari beasiswa ke luar negeri, awalnya tidak tertarik untuk menanggapi tawaran itu. Ada  2 alasan yang membuat saya tidak tertarik, pertama program pendidikan dan riset yang tidak sesuai dengan keinginan dan latar belakang saya. Semenjak memutuskan untuk mengambil tugas akhir (TA) tentang RFIC, saya sudah bertekad akan mendalami analog / RFIC. Saat itu saya berpendapat bahwa tawaran riset itu lebih cocok untuk orang-orang yang ingin mendalami digital IC design. Alasan yang kedua adalah karena di KIT tidak menyediakan program internasional atau dengan kata lain, kegiatan perkuliahan masih menggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa pengantar.   

Beberapa hari kemudian, salah satu dosen saya, Pak Trio Adiono, menawarkan kembali program S2 di KIT ini kepada saya. Karena saat itu beliau tahu saya sedang mencari S2 ke luar negeri dan terkait dengan kebutuhan SDM untuk mengerjakan proyek WiMAX. Setelah mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi untuk beberapa waktu lamanya, saya memutuskan untuk mencoba menindaklanjuti tawaran S2 di KIT ini dan mulai berkorespondensi dengan Ochi-sensei. Awalnya saya mengira akan ditolak oleh beliau karena latar belakang tugas akhir saya yang berbeda dengan kebutuhan riset laboratoriumnya, namun di luar dugaan beliau menyambut baik keinginan saya dan menyampaikan bahwa di dalam proyek risetnya juga terdapat riset tentang RF chip. Inilah yang menjadi alasan utama saya bergabung dengan laboratorium Ochi-sensei dan mengambil S2 di KIT. Singkat cerita, setelah berkorespondensi beberapa kali dan melengkapi dokumen yang dibutuhkan, saya akhirnya berangkat ke Jepang tepat pada tanggal 1 April 2008.

Setibanya di Jepang, saya tidak langsung menjadi mahasiswa S2 di KIT, melainkan menjadi research student di laboratorium DSP, laboratorium yang dipimpin oleh Ochi-sensei, terlebih dahulu selama 6 bulan baru kemudian dilanjutkan dengan program S2. Aktivitas saya selama ini cukup padat, mulai dari belajar bahasa Jepang, riset, kerja part-time sebagai engineer, dan mengikuti kegiatan belajar bersama dengan anggota lab yang lain.  Dalam seminggu saya memiliki jadwal kelas bahasa Jepang 4 hingga 5 kali dalam seminggu. Sedangkan untuk kerja part-time, ini merupakan kompensasi yang harus saya lakukan karena telah dibiayai sekolah dan biaya hidup oleh perusahaan Radrix. Radrix adalah perusahaan yang dipimpin oleh sensei yang menawarkan jasa desain berbagai sistem komunikasi wireless, terutama dalam system modeling ataupun digital chip design.

Tentang riset

Salah satu alasan saya diterima oleh Ochi-sensei untuk bergabung dengan riset di KIT dan juga alasan saya menerima tawaran melanjutkan pendidikan di KIT adalah saya menjadi bagian dari tim yang mendesain chip RF untuk proyek riset Digital Cinema over Wireless Network. Proyek ini dikerjakan dalam beberapa grup yaitu grup digital & MAC, grup image processing, dan grup RF, yang merupakan grup tempat saya bergabung. Masing-masing grup ini terdiri atas berbagai institusi pendidikan dan perusahaan dari Jepang. Grup RF dipimpin oleh Muto-sensei, profesor dari KIT yang memiliki spesialisasi di bidang analog/RF yang ada di Wakamatsu campus. Di Ochilab, sebutan untuk laboratorium yang dipimpin oleh Ochi-sensei, anggota lab yang tergabung dalam grup RF ini hanya ada 2 orang, saya dan Matsuno-san. Saya mengerjakan bagian variable gain amplifier, sedangkan Matsuno mengerjakan polyphase filter. Dalam seminggu biasanya kami pergi ke Wakamatsu campus sebanyak dua kali untuk berkonsultasi dengan Muto-sensei tentang riset kami.

Itulah sedikit cerita tentang awal mula saya melanjutkan pendidikan di Jepang dan kesibukan aktivitas saya.

One Response to “The beginning”

  1. owh.. jadi begitu awalnya.. mantab, mantab..
    keputusan yang sangat berani so🙂
    sukses ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: