Déjà vu

Apakah pada suatu waktu kalian pernah merasakan mengalami kejadian yang sama seperti kejadian sebelumnya? Itulah yang disebut déjà vu. Saat ini saya sedang mengalami déjà vu dalam episode kehidupan saya dan ini akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama.  

Minggu lalu saya baru saja mengikuti tes masuk S2 di KIT. Alhamdulillah, setelah mengikuti tes tulis dan interview saya dinyatakan lulus. Kelulusan tes masuk S2 ini menandakan tantangan baru bagi saya telah menanti. Seperti yang telah saya jelaskan di tulisan saya sebelumnya, bahwa alasan saya diterima oleh Ochi-sensei untuk bergabung dengan riset di KIT dan juga alasan saya menerima tawaran melanjutkan pendidikan di KIT adalah saya menjadi bagian dari tim yang mendesain chip RF untuk proyek riset Digital Cinema over Wireless Network. Di sisi lain, fakultas saya sebenarnya bukanlah fakultas tempat yang cocok untuk belajar analog / RF chip design, melainkan lebih cocok untuk belajar tentang digital chip design atau sistem informasi. Dalam website resmi KIT, nama departemen saya adalah computer science and electronics, namun entah kenapa dalam bahasa jepang nama departemen saya sering disebut dengan johoko gakubu atau information system. Apapun namanya, intinya akan dibutuhkan usaha mandiri yang sangat keras untuk belajar analog/RF di departemen saya.

Kemarin dalam perjalanan ke Wakamatsu campus bersama Matsuno, kami sempat mengobrol tentang program S2 di departemen saya. Dari hasil oborolan ini, saya mendapatkan informasi bahwa beban kredit semester untuk S2 ada 30 kredit, dengan rincian 8 kredit wajib yang menyangkut information sytem, 8 kredit untuk riset S2, dan 14 kredit sisanya merupakan kredit pilihan. Setelah mengetahui hal ini, saya langsung terbayang tentang tantangan yang akan saya hadapi ke depannya. Ya, saya harus mengambil 22 kredit S2 yang semuanya itu tidak berkaitan secara langsung dengan riset saya. Kondisi ini semakin diperberat dengan aktivitas riset, part-time job, belajar bahasa jepang, serta kegiatan perkuliahan yang menggunakan bahasa Jepang.

Kondisi saya saat ini mirip dengan kondisi saya saat menyelesaikan pendidikan S1 di ITB. Saya yang berasal dari subjurusan telekomunikasi mengambil tugas akhir tentang RFIC. Sebuah pilihan yang menurut saya merupakan salah satu keputusan terbesar saya ketika berada di ITB. Semenjak saya memutuskan untuk mengambil tugas akhir RFIC, saya sudah bertekad bahwa kelak saya akan mendalami analog/RF bagaimanapun caranya dan bagaimanapun sulitnya. Kini saya yang mengambil riset S2 tentang RFIC, harus kembali mengikuti kegiatan perkuliahan yang tidak berkaitan secara langsung dengan riset saya. Inilah déjà vu yang saya alami.

Ketika saya menceritakan perihal déjà vu ini kepada Matsuno, dia berkata sambil tertawa “so Lakso-san, you will feel déjà vu everyday in Ochilab“, pernyataan yang saya iyakan sambil tertawa. Namun ternyata matsuno mengaku juga mengalami kondisi yang sama dengan saya, yaitu kuliah S2 yang tidak selaras dengan riset yang dilakukan. Dan dia juga merasa hal seperti ini sangat tidak nyaman bagi dia dan risetnya. Dalam perjalanan pulang dari Wakamatsu kemarin, saya banyak bertanya kepada Matsuno tentang kuliah S2 apa yang harus saya ambil, beban kuliahnya, dan hal-hal lain seputar kuliah S2. Dari sini saya memperoleh gambaran seberapa berat beban kuliah S2 saya nanti.

Ketika tekad telah terucap, maka tidak ada kata mundur darinya. Ketika saya sudah bertekad untuk mendalami analog/RF, maka semaksimal mungkin saya akan belajar mandiri analog/RF. Saat ini saya sedang mencoba menyusun ulang jadwal kegiatan saya, mencoba lebih optimal dalam mengalokasikan waktu dan konsentrasi saya, mengumpulkan bahan-bahan yang saya butuhkan, dan berusaha menepati jadwal yang telah saya tetapkan.

Saya yakin, kondisi yang saya alami saat ini merupakan sebuah proses belajar bagi saya. Belajar untuk lebih efisien, lebih disiplin, lebih tertib, lebih teliti, dan lebih efektif. Dan tentu saja, kondisi sulit ini menjadi kondisi bagi saya untuk lebih mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa.

Ya Allah, semoga saya dapat menjalani semua aktivitas ini dengan sebaik-baiknya, luruskanlah hati ini hanya untuk mengharap ridha-Mu dalam setiap aktivitas, berikanlah diri ini kekuatan lahir dan batin untuk melalui ini semua, serta tuntun dan bimbing langkah diri ini untuk memperoleh hasil yang terbaik bagi akhirat dan dunia saya.

4 Responses to “Déjà vu”

  1. Dimas L Adisuryo Says:

    Don’t worry akh…
    Anata wa hitori ja nai…

  2. mmmh

    nden juga nih kg lakso…
    ambil TA RFIC…

    sebenernya masih cukup blank…
    mw ngapain aj…

    baiklah bismillaah…

    man jadda wa jadda

  3. Semangat! Belajar juga ibadah mas. Yang penting seimbang.

  4. Yoski..! Terima kasih sudah diingatkan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: