LIT a.k.a Lost In Translation

Apa jadinya jika seorang manusia kehilangan kemampuan membaca, menulis, dan berbicara ? Lost in Translation itulah yang terjadi. Sebenarnya ini adalah istilah saya sendiri untuk menunjukkan kondisi seseorang yang kehilangan tiga kemampuan tersebut sehingga tidak dapat berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Ketiga kemampuan itu merupakan kemampuan yang paling dasar yang digunakan manusia untuk dapat berinteraksi dengan manusia yang lain. Hal inilah yang sempat saya khawatirkan sebelum saya berangkat ke Jepang. Namun akhirnya hal ini memang benar-benar terjadi. FYI, saya berangkat ke Jepang tanpa bekal bahasa Jepang sama sekali.

LIT seringkali saya alami di saat-saat pertama saya tiba di Jepang (sebenarnya hingga saat ini juga masih sering..hehe). Orang Jepang asli yang satu laboratorium dengan saya dan yang dapat berbahasa inggris dengan baik hanya sensei sedangkan teman Jepang yang lain kemampuan berbahasa inggrisnya masih sangat terbatas. Sedih rasanya tidak bisa ikut tertawa dengan teman-teman Jepang yang lain ketika ada hal-hal yang lucu atau menyenangkan. Sedih rasanya ketika tidak dapat menawarkan bantuan kepada teman-teman Jepang yang lain. Kondisi LIT juga terjadi ketika saya harus menggunakan fasilitas umum di Jepang, seperti berbelanja, naik bus, mengurus perpanjangan visa, dll. Bahkan saat perpanjangan visa, sempat terjadi salah paham dengan petugas imigrasi Jepang sehingga saya salah mengisi formulir aplikasi. Alhamdulillah, visa saya dapat diperpanjang menjelang 1 hari terakhir masa berlaku visa saya (lumayan bikin cemas.. terbayang jika perpanjangan visa saya terlambat, saya harus kembali ke Indonesia).

Kondisi LIT ini sedikit teratasi karena karakter orang Jepang yang sangat ekspresif. Saya masih bisa berkomunikasi dengan mereka meski menggunakan bahasa Inggris, dan tentu saja disertai isyarat tubuh (tampaknya bahasa yang paling universal adalah bahasa Tarzan.. he3x). Di kampus saya, setiap mahasiswa asing memiliki tutor yang membantu mahasiswa asing untuk beradaptasi di Jepang. Para tutor ini bertugas membantu mahasiswa asing dalam aktivitas sehari-harinya, contohnya mengisi aplikasi administrasi yang bersangkutan dengan perkuliahan, membuat rekening di bank, kartu kredit, dll. Tutor saya bernama Shunsaku Matsuno, mahasiswa S2 di KIT yang merupakan rekan satu grup riset IC analog dengan saya (lain kali saya akan mencoba untuk membahas lebih detil tentang teman akrab saya ini). Dalam seminggu biasanya saya harus pergi ke kampus KIT yang ada di Wakamatsu (sekitar 1 jam dari Iizuka). Biasanya saya berangkat ke Wakamatsu bersama Matsuno. Saat-saat pertama, ketika saya dan Matsuno berusaha untuk bercakap-cakap seringkali percakapan di akhiri dengan kebingungan, saya yang bingung untuk berusaha menjelaskan dalam bahasa Inggris yang masih dapat dimengerti oleh Matsuno sedangkan Matsuno berusaha mengingat-ingat arti bahasa Inggris yang saya ucapkan atau memilih kata-kata bahasa Inggris yang tepat. LIT again …

Untuk mempercepat penguasaan bahasa Jepang, dalam seminggu saya mengikuti 5 kali kelas bahasa Jepang. Guru bahasa Jepang saya, Hirata-sensei, adalah guru yang baik. Karena bahasa Inggris beliau juga tidak lancar, maka ketika beliau menerangkan seringkali menggunakan bahasa Jepang yang dipadu dengan isyarat tubuh atau gambar. Metode belajar seperti ini cukup efektif. Saat-saat belajar bahasa Jepang selalu menjadi saat yang menyenangkan, saat yang penuh dengan tawa (karena kita, mahasiswa asing, sering saling menertawakan kesalahan ketika belajar bahasa Jepang, terlebih lagi ketika kita berusaha berimprovisasi sendiri untuk menerjemahkan bahasa inggris ke bahasa Jepang ..he3x).

Alhamdulillah, lambat laun frekuensi terjadinya LIT mulai berkurang seiring dengan kemampuan bahasa Jepang yang sedikit demi sedikit bertambah. Saat ini saya berusaha untuk terus membiasakan menggunakan bahasa Jepang yang sudah saya pelajari meski masih sangat minim. Ilmu bahasa berbeda dengan ilmu eksak, bahasa harus sering digunakan agar kita lebih mudah kita ingat dan menggunakannya.

10 Responses to “LIT a.k.a Lost In Translation”

  1. Wah. pengalamannya sama banget dengan temenku yang riset 6 bulan disana….Benar2 jadi orang yang cukup “terasing” secara tiba2….Hanya bisa komunikasi lancar dengan sensei…Kadang2 juga merasakan kecuekan orang sana, yang waktu itu, waktu dia jatuh, kepleset, ga ada satupun orang yang menoleh apalagi menolong…Dia sangat bersyukur banget waktu akhirnya riset itu selesai…Yang sabar ya Mas…Pembelajaran segala sisi itu pasti akan sangat banyak manfaatnya….

  2. Eh iya, ada yg lupa belum di tambahin di postingannya. Sebenernya LIT-nya ga parah2 banget kok. Temen2 masih bisa ngerti apa maksudku dan aq juga masih bisa ngerti maksud mereka…tentu saja njelasinnya mixing antara bahasa Inggris, bahasa Jepang, plus.. bahasa tarzan. he3x

  3. gambatte kudasai om lakso

  4. hm,, a nice story. but still, i can’t imagine if I were you I wont be brave to live there without knowing japanese.
    I have heard that japanese will not “respect” you unless you can speak their language. is it true? But,, your story tells the contrary.
    hmm,, great! Good luck

  5. Same experience… ganbatte ne… ^^

  6. @ Umi Mardhiyah
    Terima kasih bu.. ^_^

  7. @ Randy HW
    hehe.. randi nihongo-nya udah sampe mana nih belajarnya?

  8. @ Dewi
    When I decided to accept scholarship offer in Japan, I determined that I’d take the risk.
    About rumour that said Japanese won’t respect foreigner who can’t speak their language, I think it isn’t true. I think they are very friendly although we don’t understand their language. They support us to study Nihongo exactly. They’re also very happy to meet us, because they can learn E-go (english language) from us.

  9. hoo, keerrreeennn…
    pengen merasakannya juga,
    aku mau ya Lakso kalo ada lowongan beasiswa.. <,<
    mohon infonya.. ^^
    heuu japaannn..
    *day dreaming started*

  10. Coba baca tulisanku ttg resensi film L.I.T.
    Ada esensi yang sama dengan pengalaman anda. Kalau belum nonton, tontonlah untuk mentertawakan pengalaman pribadišŸ˜€

    http://yusahrizal.wordpress.com/2009/01/24/lost-in-translation-lost-in-deja-vu/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: