Intuition, do you have it?

Good analog design requires intuition, rigor, and creativity. As analog designers, we must wear our engineer’s hat for a quick and intuitive understanding of a large circuit, our mathematician’s hat for quantifying subtle, yet important effects in a circuit, and our artist’s hat for inventing new circuit topologies

Behzad Razavi

Ketika saya belajar tentang desain IC analog dari buku Design of Analog CMOS Integrated Circuit, pengarang buku ini berulang kali mengingatkan tentang pentingnya intuisi dan kreativitas di dalam menganalisis dan mendesain IC analog. Intuisi yang dimaksudkan di sini berbeda dengan asal menebak yang tanpa perhitungan atau dasar. Intuisi yang dimaksud adalah kemampuan logika yang berkembang dari proses hidup, mengambil tindakan, dan memperhatikan. Intuisi terbentuk dari proses interaksi yang aktif dan dalam waktu yang cukup lama.

Bagaimana kita dapat mengetahui apakah kita sudah memiliki intuisi yang baik atau belum? Atau dengan kata lain, seberapa tajamkah intuisi kita? Intuisi akan membentuk pola pikir kita. Ketika kita menghadapi sebuah persoalan yang sudah sering kita hadapi sebelumnya, kita dapat menentukan solusi yang tepat dengan cepat tanpa harus berulang kali melakukan analisis yang sama terhadap masalah tersebut. Seseorang yang memiliki intuisi yang baik dapat merekonstruksikan dan menghubungkan ide-ide yang ada di dalam pikirannya secara cepat hingga akhirnya dapat membuatnya menjadi sebuah ide baru.

Lalu bagaimana intuisi di bidang desain IC analog? Seorang analog IC designer yang memiliki intuisi yang bagus dapat memberikan analisis yang cepat dan tepat dari rangkaian analog yang kompleks serta dapat memprediksikan perubahan apa yang terjadi ketika ia mengubah susunan rangkaiannya. Intuisi akan sangat memudahkan pekerjaan desain IC analog karena kita dapat terhindar dari perhitungan matematis dan solusi yang rumit. Sesuai dengan pengertian intuisi yang telah dijelaskan sebelumnya, intuisi dalam desain IC analog diperoleh dari hasil belajar dan berlatih dalam waktu yang cukup lama.

Konsep intuisi juga berlaku di bidang pekerjaan yang lain atau aktivitas kita sehari-hari. Seorang koki yang handal dapat memperkirakan komposisi bumbu dan bahan masakan yang tepat untuk menghasilkan masakan yang lezat, seorang pembalap dapat mengetahui kapan dan seberapa kuat dia harus mengerem kendaraannya ketika berada di tikungan yang tajam. Bahkan ketika kita berinteraksi dengan teman-teman kita, kita dapat membentuk intuisi bagaimana pola pikir teman-teman kita.

Pelajaran moral yang dapat kita ambil dari konsep intuisi ini adalah tidak ada suatu kesuksesan yang dapat diraih tanpa adanya jerih payah sebelumnya … no pain no gain.

3 Responses to “Intuition, do you have it?”

  1. Wah, ternyata seorang desainer IC analog mesti punya instuisi segitunya ya. Saya setuju tuh dengan cara memecahkan masalah dengan instuisi seperti yang Mas sebutkan. Jika kita punya instuisi yang bagus, mungkin masalah yang dihadapi akan dengan mudah kita lalui ya. Mudah-mudahan instuisi yang kita punya berdasarkan ajaran agama Islam. Apa bedanya sih ama Insting????

  2. sepokat so! intuisi sangatlah penting, apalagi untuk seorang desainer. tapi jangan sampe intuisinya kaya intuisi Ki Joko Bodo aja, intuisi gaib, hihihi

  3. engineer itu 10 % ilmu, 90% intuisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: