Muhasabah

Posted in Uncategorized with tags , , on January 24, 2012 by lakso


Ada umur panjang terbentang,
dari tangisan lahir kecil hingga tarikan nafas terakhir.
Sungguh tiada sanggup kami membayang,
berapa banyak dosa dan cela yang telah terukir.

Ada sajadah amal panjang terpampang,
dari kaki buaian sampai ke belaian liang lahat.
Sungguh tiada mampu kami menimbang,
berapa banyak amal ikhlas nan taat.

Bilamana malam telah menjemput bulan,
terangnya siang tertangkup gelapnya malam
dan teriknya sinar surya terganti cahaya bulan temaram.
Andai hisab telah menuntut setiap amal,
tiada lagi hati sanggup berdusta
sunyi lisan penyanggah diam terbungkam
kaki dan tangan memutar amal yang terekam.

Ya Rabbi …
jauh sudah langkah kaki kami
lewati jutaan detik ribuan hari tak kembali
Illahi …
ampuni kami yang gontai dengan dosa mewarnai
tuntun kami di sisa denyut nadi

Rabb…
kelak saat apa yang kami banggakan tinggal jadi cerita,
kelak ketika kerabat sahabat pergi bersisa sunyi,
kelak saat waktu pertemuan denga-Mu telah tiba,
Ijinkan kami ya Rabb..
agar diri ini tersenyum bahagia di akhir masa,
agar amal terbaik kami lebih banyak berbicara,
agar kami merasakan nikmat surga

Amin ya rabbal alamiin..

Iizuka, 12 Januari 2012 – 23.00 JST

Tentang Salah

Posted in Reminder with tags , on September 16, 2010 by lakso

Kesalahan itu ibarat paku yang tertancap di tembok. Meskipun paku itu sudah dicabut, tetap akan meninggalkan lubang di tembok. Bekas lubang inilah yang seharusnya senantiasa menjadi pengingat bagi kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Robbana dzolamna anfusana wa illam taghfirlanaa watarhamnaa lanakuunanna minal khoosiriin

(Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni diri kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi – 7:23  )


Catatan Idul Fitri 1431H

Posted in Opinion, Share it with tags , , , , , , on September 9, 2010 by lakso

Satu-satunya momen dengan mobilisasi massa terbesar di Indonesia sudah berlangsung sejak kurang lebih tujuh hari yang lalu dan akan berakhir tujuh hari kemudian. Momen tahunan yang mengalahkan panasnya intrik Pemilu lima tahunan atau euforia empat tahunan Piala Dunia, yap momen itu bernama ‘mudik’. Ribuan orang dari berbagai daerah rela merogoh koceknya dalam-dalam dan bahkan banyak juga yang harus rela berpanas-panas serta menghirup karbon monoksida selama berjam-jam di atas jalanan, atau berdesak-desakan di dalam alat transportasi publik. Mereka semua punya satu tujuan : kembali ke kampung halamannya masing-masing untuk bersilaturahim dengan sanak saudaranya.

Saya pun sempat menjadi bagian dari momen tahunan ini, tepatnya empat tahun yang lalu selama empat tahun. Continue reading

Subuh

Posted in Reminder with tags , on September 3, 2010 by lakso

Hei kawan cobalah dengar perlahan…
Ya.., dapatkah kalian mendengar apa yang sedang aku dengar?
Pemilik alam semesta sedang menyapa
lewat adzan subuh yang berkumandang syahdu
membangunkan jiwa-jiwa yang sedang terlelap di bawah kelambu

Ayolah kawan..,
Segeralah beranjak dari tempat tidurmu,
hapus kantukmu,
basuh dirimu dengan air wudhu.
Tidakkah kau tergerak dengan tawaran-Nya?
Dua raka’at sholat sunnah sebelum shubuh saja
nilainya lebih baik daripada dunia dan seisinya,
itu yang disampaikan Rasul-Nya.
Bisa kau bayangkan kawan ..
betapa besar sholat shubuh dinilai-Nya
ah.. tak usahlah kita berhitung dengan-Nya
karena memang tak akan mampu kita berhitung dengan-Nya

Ayolah kawan..
segeralah bersiap dan bergegaslah ke masjid
Meski dingin masih akrab dan fajar masih mengintip
Jangan malas untuk mengejar berjama’ah di masjid
Ah kawan…
Andai kau tahu betapa rindu diri ini dengan kalian
Rindu dengan adzan yang secara langsung dapat kalian dengar
Rindu dengan masjid yang dapat kalian datangi
Rindu dengan sholat berjama’ah dengan shaf berderet-deret yang dapat kalian ikuti
Di sini ..
Tiada adzan selain dari piranti lunak
Tiada masjid selain sebuah ruang kecil di lab
Tiada jama’ah selain dua atau tiga orang saja
Semoga Alloh masih memberi diri ini usia
Untuk dapat melepas rindu dengan kalian

Cobalah dengar sekali lagi kawan
Adzan subuh telah habis berkumandang
Lalu kenapa engkau masih terpaku di sini?

Kitami – 030910 – 03.11 JST

Kepada Yang Maha …

Posted in Uncategorized on June 30, 2010 by lakso

Kepada Yang Maha …
menggenggam jiwa setiap yang bernyawa
mencipta alam semesta beserta keindahan di dalamnya
mengatur ruang waktu dengan semua hukum fisika yang terkait di dalamnya

sembilan ribu seratus dua puluh lima hari
itu waktu yang telah Engkau berikan hingga hari ini
sejak Engkau memutuskan bahwa aku akan berlari di dunia ini

Duhai Yang Maha …
yang menjaga peredaran setiap bintang
Ah.. malu rasanya jika menengok lagi ke belakang
compang-campingnya amal hingga dosa yang membentang
mungkin membuat diri ini tidak layak Engkau pandang

Wahai Yang Maha …
yang memiliki sembilan puluh sembilan nama mulia
murnikanlah segala amal, ampunkanlah segala dosa
hanya kepada-Mu diri ini memanjatkan doa dan menaruh asa

Wahai Yang Maha …
yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam
terima kasih atas usia yang Engkau berikan
terima kasih atas iman dan islam yang masih menghujam
terima kasih untuk tetap menyapa diri ini meski diri ini berulang kali tenggelam
terima kasih atas semua nikmat yang tak terbilang nan beragam

Wahai Yang Maha …
yang mengetahui segala isi hati
setiap detik yang Engkau tambahkan dalam usia kami
adalah tanda cinta-Mu supaya kami berbenah diri
kuatkan kami Ya Rabbi ..
untuk terus istiqomah di jalan-Mu yang suci
hingga hari akhir nanti

Kitami, 30 Juni 2010 – 09.28 JST

Today is Yours

Posted in Opinion with tags , , , on February 23, 2010 by lakso

Today is yours‘ salah satu kalimat pendek yang saya suka. Kata-kata ini biasanya selalu terpampang di baliho milik LFM (Liga Film Mahasiswa) ITB saat waktu wisuda. Kalimat yang mengiringi ratusan, mungkin kini sudah ribuan untuk setiap waktu wisudanya, para wisudawan dan wisudawati ITB. Euforia dan letupan-letupan perasaan puas, senang, sedih, haru seusai menuntut ilmu di kampus cap gajah ini seolah berusaha direfleksikan lewat kalimat ini. Continue reading

Onara Taisou … do re mi fa pu pu waa~h..^^

Posted in Uncategorized with tags , , , , on January 31, 2010 by lakso

I found a weird but funny song from a japanese drama (jdorama), Nodame Cantabile, enjoy! ^^ Continue reading

Somewhere You Belong (Part II)

Posted in Opinion with tags , , on January 24, 2010 by lakso

Ohaiyo gozaimasu minna-san… Seperti yang sudah saya tuliskan di akhir tulisan saya sebelumnya, sekarang saya akan melanjutkan kisah Pak Jojima.

Jojima Masayuki

Continue reading

Somewhere You Belong (Part I)

Posted in Opinion with tags , on January 23, 2010 by lakso

Hari Minggu sore ini saya mendapat seorang teman Jepang baru, seorang kakek yang berusia 85 tahun. Seperti kondisi orang-orang tua di Jepang lazimnya, teman baru saya ini masih terlihat sangat sehat dan bugar, seakan-akan 15 tahun lebih mudah dari usia sebenarnya. Penampilannya sederhana dan bersahaja, dan dari gurat wajahnya tampak bahwa ia tenang menghabiskan hari-hari tuanya di rumahnya yang terletak  di salah satu kompleks perumahan kota Fukuoka. Jojima Masayuki, itulah nama teman baru saya ini.

Awal pertemuan saya dengan Pak Jojima ini berawal dari cerita teman Jepang saya yang lain, Mika (lain kali saya juga akan bercerita tentang teman saya ini, a lot of things about her to be told). Mika menyampaikan kepada saya, bahwa ada seorang kakek kenalannya yang ingin bertemu dengan saya karena dia dulu pernah beberapa tahun tinggal di Indonesia. Dan akhirnya Minggu sore ini, saya, Mika, dan Ryuushi (suami Mika), pergi berkunjung ke rumah Pak Jojima.

Well, kembali ke cerita tentang Pak Jojima. Sebenarnya apa yang menarik tentang Pak Mojima, hingga saya sangat ingin bercerita tentangnya di blog ini? Continue reading

Dia Yang Dirindu

Posted in Opinion with tags , , , on January 10, 2010 by lakso

Senyumnya masih sama ketika menyambutku, tulus dan hangat seperti biasanya. Meski guratan usia di wajahnya dan uban di rambutnya membuatnya tampak lebih tua daripada saat terakhir kali aku bertemu dengannya, wajahnya masih teduh. Inilah yang membuat kerinduan untuk pulang terus membuncah.

Dalam kepulangan kali ini, ada hal yang membuatku bahagia. Kini ibuku sudah mulai lancar mengaji meski dengan ilmu tajwid yang masih belum sempurna. Setiap hari seusai sholat maghrib hingga waktu sholat isya tiba, ibuku selalu mengaji dan aku berkesempatan untuk mendampinginya, mengoreksi bacaannya. “Sebenarnya setelah khatam Al-Quran pada waktu Ramadhan kemarin, Pak Sukri akan mengajari Ibu ilmu tajwid kemudian juga tafsir Al-Qur’an-nya, tapi Pak Sukri sekarang sibuk setelah menjadi relawan bencana alam dan pindah ke LSM lainnya, pelajaran ngajinya jadi mandeg*”. Begitu keluh ibuku tentang pelajaran mengaji rutinnya yang terhenti karena Pak Sukri, nama guru mengajinya, sibuk dengan berbagai aktivitas. Subhanallah..senang sekali melihat semangat ibuku untuk belajar Al-Qur’an dan hal ini juga melecut diriku untuk berusaha lebih rajin dan istiqomah mempelajari kalam-Nya.

Beliau sempat terisak untuk beberapa saat lamanya ketika aku pertama kali menyimak bacaan mengajinya seusai sholat shubuh ketika aku baru tiba di rumah. Aku tidak tahu pasti mengapa ia menangis, mungkin karena terharu bertemu aku yang sudah lebih dari 1,5 tahun lamanya tidak pulang, atau terharu karena sudah mulai bisa mengaji dengan lancar. Di sela isak tangisnya, aku mendengar kalimat lirih dari bibirnya, “kasihan bapak..”. Aku teringat almarhum bapakku, beliau memang belum sempat untuk belajar mengaji lagi sebelum ajalnya tiba. Inilah hal yang selalu membuat aku sedih jika teringat almarhum bapakku. Sedih pada diri sendiri karena sebagai seorang anak, aku belum merasa berbuat banyak, setidaknya untuk lebih sering mengingatkan dan mengajak belajar bapakku (semoga Allah menerima segala amal ibadahnya dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya). Aku paham hidayah memang menjadi hak prerogatif Allah, tapi diriku selalu merasa bersalah dan menyesal jika mengingat hal ini. Perasaan ini juga yang menjadi motivasi untuk terus belajar, terus membina silaturahim dengan ibu dan kakak-kakakku, untuk perlahan-lahan mengajak mereka untuk bersama-sama mempelajari dan mengamalkan Islam sebaik-baiknya.

Selain rutinitas baru seusai sholat maghrib, aku juga sempat berbincang-bincang dengan ibuku. Berbincang-bincang tentang banyak hal, tentang hidup. Dan dalam perbincangan dengan beliau kali ini, beliau kembali mengingatkanku tentang pentingnya totalitas, komitmen, konsistensi, dan pantang menyerah dalam hidup. Dari perbincangan ini juga, aku juga menjadi sadar bahwa beberapa sifat dan karakter dalam diriku turunan dari ibu dan almarhum bapakku. Memang sudah sejak lama dan sering kudengar peribahasa “air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga”, tapi baru kali ini aku menyadari betapa kuatnya nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya, meskipun mungkin itu hanya terjadi saat masa kecil si anak dan anak tersebut kemudian pergi merantau sekian lama.

Untuk kalian yang masih memiliki orang tua, ingat-ingatlah perkataan Rasulullah SAW ini :

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata : Aku bertanya, “Ya Nabiyullah, amal apakah yang paling dekat kepada surga?” Beliau SAW bersabda, “Shalat pada waktunya”. Aku bertanya lagi “Apa lagi ya Nabiyullah?” Beliau SAW bersabda berbakti kepada kedua orang tua”. Aku bertanya lagi “Apa lagi ya Nabiyullah?” Beliau SAW bersabda, “Berjihad di jalan Allah”. (H.R.Muslim juz 1, hal.89)
Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Seorang anak tidak bisa membalas (kebaikan) orang tuanya, kecuali jika ia mendapatkan orang tuanya sebagai budak, lalu ia membelinya dan memerdekakannya” (H.R.Muslim juz 2, hal.1148)

Dan masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist yang membahas keutamaan berbakti kepada kedua orang tua. Jangan ditunda-tunda, lakukan sekarang juga.