Selamatkan Sholat Shubuh Kami

Seperti yang pernah saya sampaikan di tulisan saya sebelumnya, salah satu kekhawatiran terbesar saya sebelum berangkat ke Jepang adalah khawatir akan kehilangan kebiasaan shalat berjamaah di masjid. Saya pikir, bagi setiap muslim yang pergi merantau ke negeri yang mayoritas penduduknya non-muslim, seharusnya mengalami kekhawatiran yang sama, at least khawatir tentang susahnya melaksanakan ibadah sholat 5 waktu. Kekhawatiran yang saya maksud di sini dapat dikarenakan reaksi lingkungan yang masih menganggap asing terhadap ibadah wajib setiap muslim ini, keluangan waktu untuk menunaikan ibadah ini, atau karena minimnya (bahkan mungkin tidak ada) masjid.
Saya sudah pernah bercerita bahwa, alhamdulillah, di sini saya masih bisa menunaikan ibadah shalat 5 waktu dengan tenang (dari segi waktu, tempat maupun respon dari teman-teman lab). Di awal kedatangan saya ke Jepang biasanya saya hanya dapat menunaikan sholat berjamaah hanya saat hari kerja saja dan sewaktu berada di kampus (karena musholanya ada di kampus). Alhamdulillah, semenjak bulan Ramadhan tahun lalu, di dormitori tempat saya tinggal, saya bersama saudara-saudara muslim yang lain bisa menumbuhkan dan mempertahankan kebiasaan sholat berjamaah untuk sholat shubuh tiap paginya dan sholat wajib lainnya saat hari libur, dengan kata lain kami bisa menunaikan sholat 5 waktu berjamaah, baik itu saat di kampus maupun saat di dormitori. Cukup dengan menggelar dua lembar tikar di aula dormitori, kami bisa menunaikan sholat berjamaah dengan nyaman. Well, bagi saya pribadi, hal ini bisa mengobati kerinduan dengan suasana masjid di Indonesia.
Tapi sebentar lagi situasinya akan berbeda. Mulai bulan depan, saya terancam akan kehilangan kebiasaan sholat 5 waktu berjamaah ini, khususnya sholat shubuh. Hal ini karena mulai bulan depan saya harus pindah dari dormitori ke apartemen. Apartemen saya yang baru merupakan kompleks apartemen yang dihuni oleh mahasiswa asing. Saya akan tinggal bersama dengan teman saya, mahasiswa dari Filipina. Memang di kompleks apartemen itu masih ada 2 orang mahasiswa asing yang muslim juga, tapi sepengetahuan saya mereka tidak biasa melaksanakan shalat berjamaah (semoga pendapat saya ini salah). Jujur, saya merasa sedih akan masalah kehilangan sholat shubuh berjamaah ini. Selain karena akan kehilangan keutamaan sholat berjamaahnya, saya juga akan kehilangan tausyiah tiap paginya karena setiap usai sholat shubuh ada saudara saya yang memberikan kultum. Hhh….
Bersyukurlah untuk kalian yang masih bisa menunaikan ibadah sholat berjamaah di masjid tiap harinya, khususnya shalat shubuh. Bagi kalian yang belum? Ayo jangan sia-siakan kesempatan untuk menunaikan ibadah shalat berjamaah di masjid, sebelum nikmat beribadah itu dicabut dari diri kalian..
This entry was posted on March 17, 2009 at 12:02 am and is filed under Share it with tags islam di luar negeri, shalat berjamaah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed You can leave a response, or trackback from your own site.
March 18, 2009 at 11:40 pm
yup, bisa dibayangkan so, rindunya shalat berjamaah seperti di Indonesia kalo lagi di negeri non-muslim. bagi yang di indonesia, alhamdulillah, patut disyukuri dan jadi tambah semangatnya, bagi yang dijepang, alhamdulillah, bisa merasakan kerinduan shalat berjamaah dan jadi tambah semangatnya juga. amin.
ps. masjid fukuoka gimana so? ceritain donk.
March 19, 2009 at 9:44 am
Wah,akhirnya yang dikhawatirkan terjadi juga ya mas.. Yeah,temen barunya dioyak-oyak ce’no mau sholat berjamaah tuh mas.. Btw,kenapa harus pindah dari dormitori ke apartemen?
May 6, 2009 at 6:46 pm
tanda-tanda kematian suatu blog :
- Jarang di update
June 10, 2009 at 9:21 am
baru nemu blognya mas lakso. inspiring. semoga diberi kemudahan disana, esp untuk ibadah.