Tentang guru

Tanggal 25 November lalu, di Indonesia diperingati hari guru. Siapakah orang yang menurut kalian pantas di sebut guru? Di mata saya, seorang guru tidaklah harus seseorang yang mengenyam pendidikan tinggi dengan gelar yang panjang menyertai nama dibelakangnya. Seorang guru menurut saya juga bukan hanya terbatas bagi orang-orang yang mengajar kita di ruang-ruang kelas atau kampus. Bagi orang jepang, seseorang disebut guru (先生-sensei) bila orang tersebut pernah mengajarkan sesuatu kepada kita. Saya sendiri lebih cenderung untuk mengambil definisi ‘guru’  seperti ini. Tentunya dengan pengertian guru seperti ini, sudah banyak guru yang pernah mengajari kita banyak hal hingga saat ini, baik itu dalam jalur pendidikan formal maupun non-formal, di ruang kuliah atau dalam kehidupan. Dari sekian banyak guru itu, ada beberapa guru yang menurut saya spesial. Spesial yang saya maksud di sini karena mereka mengajarkan hal-hal yang fundamental ataupun memberi inspirasi kepada saya.

Salah satu sosok guru yang hingga saat ini masih sering saya pikirkan adalah guru yang mengajarkan saya cara membaca Al-Quran. Saya tidak ingat dengan pasti sejak usia berapa saya mulai belajar mengaji (yang jelas saat saya masih di SD), yang saya ingat orang tua saya mendatangkan guru mengaji ke rumah untuk mengajari saya dan tiga orang kakak saya. Guru mengaji saya yang pertama bernama Pak Doni yang berasal dari Cirebon (saya ingat asal daerah beliau karena di barang-barang milik beliau, seperti payung atau buku, selalu ada tulisan ‘Doni – Cirebon’). Sebenarnya sebutan ‘Pak’ untuk Pak Doni kurang tepat karena beliau masih sangat muda saat mengajar kami. Pak Doni selalu berpenampilan rapi (penampilan default-nya berkemeja lengan panjang, mengenakan celana kain plus peci hitam), murah senyum, serta selalu datang tepat waktu. Dulu ketika waktu mengaji tiba, seringkali saya masih bermain diluar rumah atau masih asyik menonton kartun kesukaan atau acara TV favorit lainnya, sehingga ayah saya masih harus memanggil-manggil saya untuk segera bergegas berangkat mengaji.

ngaji

Seperti belajar mengaji pada umumnya, saya juga belajar mulai dari buku IQRA’ jilid 1 hingga 6. Namanya juga masih anak-anak, saat mengaji saya sering kali gaduh, masih sering main-main saat mengaji, sering ngambek mengaji tanpa alasan jelas. Alhasil Pak Doni sering kali kerepotan ketika harus mengajar kami berempat tapi beliau tidak pernah marah, beliau tetap mengajar dengan sabar. Bahkan kalau kami berempat sedang berebut ingin segera selesai mengaji, Pak Doni terpaksa harus mendengarkan kami berempat mengaji berbarengan. Meski tiap anak mengaji bagian yang berbeda, Pak Doni masih bisa membedakan jika ada salah satu dari kami yang salah mengaji. Seusai menamatkan buku IQRA’ jilid 6, Pak Doni memberikan hadiah untuk kami berempat, hadiah yang menurut saya sangat spesial, yaitu empat buah Al-Qur’an untuk kami berempat. Al-Qur’an berwarna merah yang berukuran besar untuk saya, dan Pak Doni menuliskan nama saya di sampul depannya. Al-Qur’an warna merah inilah yang akhirnya menjadi sahabat mengaji saya. Yang jelas waktu itu ketika beralih mengaji Al-Qur’an, lakso kecil berpikir, “horee..akhirnya ngajinya kaya orang gede, ngaji Al-Qur’an!”.

Sayang setelah itu kebersamaan saya dengan Pak Doni tidak berlangsung lama. Seingat saya beliau harus pindah kota, entah apa alasannya. Untuk beberapa saat kegiatan mengaji dengan didampingi guru terhenti. Saya tidak ingat berapa lama saya mengaji tanpa ada pendamping guru, namun Alhamdulillah setelah itu ada guru mengaji yang baru yang datang ke rumah saya. Kali ini guru mengaji saya yang kedua adalah seorang perempuan, namanya Mbak Nining. Sifat Mbak Nining kurang lebih sama seperti Pak Doni, ramah, sabar, dan berdedikasi pada pekerjaannya. Ada yang sedikit berbeda ketika mengaji dengan Mbak Nining, selain mengaji, saya juga belajar untuk menulis tulisan arab dari Mbak Nining. Dan sekali lagi saya tidak ingat, berapa lama saya mengaji dengan Mbak Nining.

Kini sudah lebih dari sepuluh tahun saya tidak bertemu dengan dua orang guru mengaji saya. Saya tidak tahu bagaimana kondisi mereka, dimana mereka berada sekarang, atau bapakah mereka masih hidup atau tidak. Terakhir kali pulang ke Indonesia bulan agustus kemarin, saya sempat bertanya kepada Ibu saya dimana saya dapat memperoleh informasi terakhir tentang mereka. Ternyata ibu saya sebelumnya juga pernah mencoba mencari informasi tentang mereka dari pengurus masjid tempat mereka mengajar dulu, tapi pengurus masjid yang sekarang tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka atau bahkan mengenal mereka.

Ingin rasanya bertemu lagi dengan dua sosok guru ini, guru yang berjasa besar karena telah menjadi sarana bagi saya untuk mulai mengenal Al-Qur’an. Sosok yang dengan sabar mengajarkan Al-Qur’an kepada lakso kecil yang bandel. Menyesal rasanya jika saya ingat dulu sering membuat repot beliau berdua atau pernah tidak mengaji dengan serius. Ah, nama lengkap beliau berdua saja saya tidak tahu, bagaimana saya bisa mencari informasi untuk menemukan mereka. Saya sadar bahwa jasa beliau berdua tidak akan dapat saya balas. Yang bisa saya lakukan saat ini hanyalah mendoakan beliau berdua agar selalu dalam limpahan karunia Allah dan agar amal shalih beliau berdua mengajar saya mengaji dicatat sebagai amal jariyah.

NB : Kalian juga punya cerita tentang sosok guru spesial? Silakan berbagi ceritanya dengan menuliskan di komentar.

About these ads

7 Responses to “Tentang guru”

  1. saya sering berguru dg orang2 yg kurang mampu & yg cacat. Ada yg tangannya lumpuh sebelah, ada yg buta, ada yg melarat, sangat miskin. Walaupun mereka g menyampaikan ilmu secara langsung tp keberadaan mereka mengingatkan saya tentang syukur. Alhamdulillah ya Alloh,,,,

  2. @ Ade
    Wah iya de, lingkungan selalu bisa menjadi guru bagi kita semua. Makasih sudah berbagi.

  3. Hm..menyesal selalu datang belakangan… :P

  4. Hmm….
    Sering2 sowan k jalanan So ….!!!
    di sono juga banyak guru yg mengajarkan ttg kehidupan … ^_^
    ho ho

  5. Weiks…guru terhebat tetap ibu.q, yang ngajarin baca al qur’an mulai dari iqra’ 1 sampai katam al qur’an jus 30, ibu.q, yang ngajarin baca+nulis sampai lancar juga ibu.q, yang ngajarin berhitung pake gambar – gambar mobil juga ibu.q, my mom is the best teacher for me…

  6. hy guys
    salam kenal ya
    ngomong nih, aq terharu baca teks lo diatas. klo lo mau lebih bermanfaat untuk semua orang, apalagi masalah ngaji. kamu bisa bantu aq buat promosiin buku ngaji kilat aq. Km dan teman2 kamu, atau siapa aja termasuk yang udah tua, bakalan pintar ngaji hanya dalam waktu 30 hari aja
    Pesan bukunya segera hargatnya Rp. 30.000 aja ditambah dengan ongkos kirim ke rumah kamu, eh jangan lupa ya kasih tahu rahasia ini sama ibu bapaknya bahwa udah ada tuh buku ngaji cepat yg bergambar lagi.
    kalau mau pesan ke sini ya 085242795822 atau kirim aja ke email aku
    oke
    selamat berjuang bravo life for u

  7. Nice blog, very well-written :)

    Um, gue juga punya 2 guru yang gue admire banget. Yang pertama, guru bahasa Inggris gue. He’s like a father, a mentor, a friend, and even an enemy (karena dia selalu super rese sama gue). Waktu ketemu dia, gue kira gue mungkin gak akan ketemu guru kaya dia lagi, ato setidaknya kalopun iya, gue pasti uda biasa aja karena ketemu 1 guru kaya gitu aja menurut gue uda cukup. Gue kenal sm dia dari gue SMP 2, dari gue diajarin sm dia sampe gue lulus dan gue sekarang ngajar di tempat yang sama, dengan agak risih sekarang menjadi kolega karena kerja bareng. In my heart, he’ll always be my teacher.

    Lucunya, ada 1 guru lagi yang gue ketemuin pas gue semester 2 kuliah (sekarang gue semester 6). Nih orang BEDA banget sm guru gue yg pertama. Guru gue yang pertama tuh ceria, iseng, nyebelin, minta ditabok, wordplay banget kalo ngomong, pintar, berpengetahuan luas, dan RAMAH. Guru kedua gue, secara akademis juga pinter banget dan sama-sama kalo ngomong wordplay juga (I think I have a thing for people who speak smartly), tapi kepribadianya kaya langit dan bumi. Yang ini pendiam, cool, karismatik, gak banyak ngomong, gak suka dipuji, meskipun ramah. Gue yang GAK PERNAH suka ekonomi, gara-gara diajar sm dia, gue bisa-bisanya jadi MAU belajar ekonomi. Itu aja buat gue uda wah banget.

    Those two people are two men I’ve never regretted to have ever met, and learned from.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: