Tepat dua hari yang lalu adalah hari anak Indonesia. Sewaktu saya masih di SD, hari anak Indonesia adalah salah satu hari nasional yang paling saya ingat (sebenarnya karena dulu gara-gara ada tugas untuk menghafal hari-hari nasional he3x). Jujur ya, dulu setiap hari anak nasional diperingati saya selalu merasa gembira dan seakan-akan ingin berkata, “Yes, today is mine!”. Tidak ada alasan khusus tentang hal ini dan tidak ada sesuatu yang berbeda, semuanya sama seperti hari-hari lainnya. Mungkin ini hanya sebuah kebanggaan konyol diri saya waktu itu yang merasa bangga sebagai bagian dari komunitas anak-anak yang punya hari khusus yang diperingati oleh seluruh bangsa Indonesia (ayah aja ga punya hari khusus lho, cuma ada hari ibu dan anak..he3x).
Saya juga masih ingat, dulu dalam rangka memperingati hari anak nasional, ada acara di TV yang berjudul “Anak Seribu Pulau”, sebuah film dokumenter yang menceritakan kisah keseharian anak-anak Indonesia dari berbagai pulau di Indonesia serta keindahan alam Indonesia (untuk yang kangen atau penasaran dengan film ini, beberapa rekaman videonya bisa dilihat di sini). Menurut saya film dokumenter karya Garin Nugroho dan Mira Lesmana ini merupakan salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Kepolosan dan keceriaan anak-anak Indonesia, Indonesia dengan keindahan alam dan keanekaragaman budayanya semuanya tersaji dengan baik dalam film ini. Rasanya sangat emosional sekali dan banyak pertanyaan yang muncul dalam benak saya ketika saya menonton kembali beberapa potongan episode dari film ini. Bagaimanakah kondisi anak-anak yang ada di film ini sekarang, bagaimana kondisi alam tempat tinggal mereka, dan berbagai pertanyaan lainnya. Sungguh terharu saya melihat keceriaan anak-anak ini, tapi juga merasa sedih jika teringat banyak anak-anak Indonesia yang terancam masa depannya.
Tiga hari yang lalu saya membaca berita ini. Lagi-lagi sebuah kisah tentang seorang anak yang dipaksa oleh keadaan untuk melepaskan mimpi dan cita-citanya. Hal yang kembali mengingatkan saya pada tokoh Lintang dalam novel Laskar Pelangi. Masalah keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan adalah lagu lama di Indonesia. Tiap tahunnya ada ribuan anak Indonesia yang terpaksa putus sekolah karena tidak memiliki biaya. Tiap tahunnya negeri ini kehilangan bibit-bibit berpotensi yang seharusnya di masa depan nanti dapat membangun negeri ini. Ini masalah serius bung! Masalah ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, tapi ini juga tanggung jawab kita bersama. Well, saya akui memang saat ini saya belum dapat berkontribusi dengan penuh untuk mencari solusi bagi permasalahan ini. Paling tidak, lewat tulisan ini saya ingin mengingatkan diri saya pribadi dan kalian semua tentang masalah ini. Mari bersama-sama mengatasi masalah ini sesuai dengan kapasitas yang kita miliki. Kita dapat membantu dengan menyumbang dana beasiswa melalui LSM-LSM, menyumbang buku-buku pelajaran, dan lain-lainnya. Semoga di masa yang akan datang, kita semua memiliki kapasitas yang lebih besar lagi sehingga dapat memberikan solusi yang lebih kongkrit lagi.
Selamatkan anak-anak Indonesia..!!





